Jangan Sembarangan Resign

//Jangan Sembarangan Resign

Jangan Sembarangan Resign

Jangan Sembarangan Resign

 

Kubik Leadership / Innovate For Impact

Apakah setelah resign dari pekerjaan kehidupan orang itu semakin baik? Jawabnya, tergantung. Resign hanya karena emosional tanpa pertimbangan bisa berakibat fatal. Sedangkan resign didasarkan pada pertimbangan matang membuat hidup kita semakin berkembang.

Saya pernah resign dua kali. Pertama sebagai CPNS di IPB dan yang kedua saat menjabat sebagai salah satu Direktur di Dompet Dhuafa Republika. Saya tidak menyesali kedua pilihan saya tersebut.  Dan hingga kini saya tetap membantu acara-acara yang dilakukan DD Republika.

Resign itu bukan hanya resign. Apalagi hanya emosional usai membaca buku atau ikut training. Lebih celaka lagi bila Anda resign hanya karena melihat teman berhasil bisnis usai resign. Bahkan dengan gagah Anda berkata “kalau dia bisa berhasil bisnis, saya juga pasti bisa berhasil.”

Sebelum Anda resign pastikan beberapa hal berikut. Pertama, tinggalkanlah “kenangan” baik di perusahaan tersebut.  Seburuk apapun perusahaan Anda bekerja, pastikan Anda punya prestasi di perusahaan yang Anda tinggalkan. Jangan resign karena Anda bermasalah. Bila Anda pernah membuat masalah, bersihkan dulu dengan prestasi luar biasa yang diakui banyak orang.

Kedua, siapkan “kapal” baru Anda. Ingatlah pepatah “jangan berharap burung merpati di angkasa dengan melepas burung punai di tangan.” Jangan resign tanpa rencana kerja atau bisnis baru yang jelas.  Nekad memang penting dalam hidup tetapi nekat tanpa perhitungan yang matang itu namanya ngawur alias ngaco.

Ketiga, pastikan di tempat yang baru Anda lebih berkembang. Apabila Anda pindah kerja pastikan prospek di tempat baru lebih menjanjikan dibandingkan tempat sebelumnya. Bukan hanya prospek penghasilan dan lingkungan kerja tetapi juga prospek pengembangan diri.

  Seminar Motivasi di Otoritas Jasa Keuangan

Sementara bagi Anda yang resign karena bisnis, pastikan bisnis adalah passion Anda. Resign bukan hanya karena ikut-ikutan tren, bukan hanya karena emosional, bukan karena “dikomporin” orang lain. Percayalah, orang yang “ngomporin” Anda saat hidup Anda terlunta-lunta dia tak peduli dengan Anda.

Hidup itu bertumbuh, jangan setelah resign hidup Anda justeru jatuh. Berpikirlah matang sebelum resign. Setuju?

 

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

 

Informasi training, coaching dan consulting: hubungi 021-29-400-100 atau 082-111-999-022

Subscribe Video Motivasi Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Training

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends
2018-04-05T15:32:44+00:00 June 28th, 2016|Tags: , , , |

5 Comments

  1. Marketing Kita 27/08/2017 at 20:13 - Reply

    saya juga melakukan resign dari perusahaan bukan karena bermasalah, melainkan adanya peluang bisnis yang lebih baik daripada saya harus terus bekerja setiap hari nya.. dan ternyata tidak seindah yang dibayangkan setelah resign ini, saya harus terus mencoba dan terus mencoba sampai sekarang untuk mendapatkan hasil yang baik. Jadi lebih baik untuk mempertimbangkan lgi klo emg mau resign jangan sampai salah perhitungan dan jangan asal nekat juga..

    http://www.marketingkita.com/2017/08/permasalahan-yang-timbul-pada-distributor-dalam-ilmu-marketing.html

    • Kubik Leadership 06/09/2017 at 10:00 - Reply

      Terima kasih atas sharingnya 🙂

  2. Ikhsan 28/08/2017 at 07:56 - Reply

    Bagaimana kalau bisnis yang akan saya jalani bukan passion, tetapi ada paluang yang besar?

    • Kubik Leadership 06/09/2017 at 09:58 - Reply

      mungkin di awal terlihat keuntungan besar yang akan didapatkan, namun seiring waktu jika menghadapi tantangan di tengah jalan, Anda tidak akan sekuat jika memiliki passion dalam mempertahankan bisnis tersebut

      • Woro 19/10/2017 at 14:41 - Reply

        Mantap penjelasannya

Leave A Comment