Indrawan Nugroho

Izinkan saya cerita contoh nyata bagaimana orang-orang tertentu bisa membuat karir atau bisnisnya melesat cepat melampaui yang lain. Saya juga akan tunjukkan caranya, supaya Anda juga bisa seperti mereka. Kisah ini tidak saya tuliskan dalam buku Rise above the Crowd. Saya ceritakan di sini hanya untuk Anda. Jadi bagi yang belum baca bukunya, ini bukan spoiler. Bagi yang sudah baca, ini akan melengkapi pemahaman Anda.

Di akhir bulan September 2015 saya melempar tantangan pada para Mentee saya di TEMPA (Trainer Mentoring Program) untuk menulis buku hingga menerbitkannya dalam waktu 3 bulan. 33 Mentee menangkap tantangan saya. Dari situ dimulai petualangannya. Tanpa pengalaman. Tanpa Co-Writer. Tanpa Writing Mentor. Hanya ada panduan struktur buku, kaidah, dan jadwal setor tulisan. Separuh perjalanan, banyak mentee yang sudah mulai terseok-seok. Tersandung. Tertinggal. Bahkan mau menyerah.

Fast Forward. Januari 2015. Para Mentee TEMPA memutuskan untuk meluncurkan buku-buku mereka dengan cara yang tidak biasa, yaitu DRAMA MUSIKAL. Sesuatu yang tidak terbayang sebelumnya. Trainer itu bicara, bukan bernyanyi. Trainer itu memberi solusi, bukan main teater. Tapi ah, itu kan biasa. Bernyanyi dan main teater itu baru tantangan! Di tengah perjalanan mempersiapkan DRAMA MUSIKAL itu, sebagian mulai jatuh pede. Meragukan kemampuan dirinya sendiri. Takut malu ditertawakan ketika tampil jelek. Sebagian mulai berfikir untuk mengibarkan bendera putih.

[nextpage]

Pindah adegan. Kubik Group. Akhir tahun 2015. Masa jabatan saya sebagai Direktur Tunggal Kubik Group segera berakhir. Para founders (saya dan Farid Poniman) meminta kesediaan sahabat kami, yang juga salah satu founder Kubik, Jamil Azzaini, untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Berlaku efektif mulai Januari 2016.

Bagi mas Jamil, itu bukan pekerjaan yang dia inginkan. Dia lebih suka berada di atas panggung. Tampil memukau di hadapan ribuan audiens. Berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Menulis artikel dan membangun jejaring dengan para tokoh masyarakat. Terlebih dari itu, mas Jamil meragukan kemampuan dirinya saat itu. Membesarkan bisnis Kubik dengan target yang semakin melangit bukanlah perkara mudah.

Namun sahabat saya itu memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya. Dia mengambil tantangan itu. Mudah? Tentu saja tidak. Di tengah kesibukannya memberikan seminar dan pelatihan, dia kini harus melakukan banyak hal yang baginya melelahkan dan tidak biasa dia lakukan. Berfikir menyusun strategi bisnis, menelateni proses, hingga memimpin rapat-rapat sampai malam.

[nextpage]

Mau Naik Kelas? Ini Caranya!

Sementara saya, apa yang harus saya lakukan? Kubik adalah hidup saya. Saya yang melahirkannya. Saya yang membesarkannya selama 15 tahun. Dan kini saya harus melepaskannya.

Saya memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Mengejar bintang terang saya sebagai Inovator Bisnis. Membangun perusahaan baru bersama dua sahabat saya yang lain. Mudah? Tentu saja tidak. Bagi saya jauh lebih mudah dan nyaman untuk meneruskan dan membesarkan Kubik. Sekarang saya kembali menjadi pemula. Berdiri di kilometer nol di atas jalan yang sudah saya pilih. Saya jadi orang yang tidak tahu apa-apa.

Sampai disini, apa kelanjutan ceritanya menurut Anda? Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di tahun-tahun mendatang. Tapi saya akan ceritakan apa yang terjadi saat ini.

[nextpage]

Masing-masing dari 33 Mentee TEMPA itu kini sudah punya buku. Mereka juga berhasil tampil memukau dihadapan 500 audiens yang memenuhi gedung pertujukan DRAMA MUSIKAL. Prestasi mereka menjadi viral di media sosial. Dan saat ini, mereka sedang mempersiapkan Roadshow seminar di 33 kota di Indonesia.

Tiga bulan semenjak resmi menjadi Direktur Kubik, Jamil Azzaini berhasil mengakselerasi bisnis Kubik dan memperkuat brandingnya. Tingkat semangat perjuangan tim Kubik semakin tinggi. Projek seminar dan pelatihan makin bertumpuk-tumpuk. Saya yakin Kubik Group akan jauh lebih hebat di bawah kepemimpinan beliau.

Bagaimana dengan Saya? Jujur, saya sangat menikmati waktu saya saat ini. Beban besar sebagai pebisnis sukses dan ahli pengembangan SDM berganti dengan ringannya langkah kaki seorang pembelajar pemula. Saya punya energi melimpah untuk mengeksplorasi ide. Saya juga bisa fokus menyelesaikan Disertasi Doktoral saya. Kini saya mulai mampu melihat jalan Bintang Terang saya dengan semakin jelas.

Apakah hasil karya kami (saya, Jamil Azzaini, dan ke-33 Mentee TEMPA) saat ini sudah sempurna? Mungkin tidak. Bagi saya, itu tidak penting. Yang paling penting adalah kami telah berhasil mengalahkan ketakutan kami sendiri. Kami juga berhasil menemukan potongan berlian dalam diri kami yang tidak kami sadari sebelumnya.

[nextpage]

Kesimpulan: Kalau mau naik kelas, milikilah keberanian untuk mengambil jalan yang sulit namun diperlukan. Apakah pasti berhasil? Tidak. Tapi setidaknya Anda bergerak maju. Sementara mereka yang penakut akan jalan di tempat. Itu saja sudah bisa membuat Anda maju melampaui mereka. Ketika Anda terus bergerak maju, Anda akan belajar banyak dalam prosesnya. Myelin keahlian Anda akan semakin terlatih. Itulah yang akan membuat Anda berhasil naik kelas melampaui rekan Anda yang lain.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang sudah Anda lakukan pada 3 bulan di awal tahun ini?

Ingat kata Max De Pree, CEO Herman Miller, “We cannot become what we want to be by remaining what we are.” Kita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan dengan tetap mempertahankan diri kita saat ini.

Artikel ini saya tulis sebagai Tribute untuk sahabat sejati saya Jamil Azzaini, dan para Mentee TEMPA yang terus menginspirasi saya untuk naik kelas yang lebih tinggi.

Indrawan Nugroho
Business Innovator
CEO CIPTA Consulting

Dapatkan artikel solutif setiap hari GRATIS. Ajukan pertanyaan, dapatkan solusinya. Join Klub Inovator Bisnis (FB Group) sekarang di bit.ly/klubinobis

Twitter: @indrakubik
IG: Indrakubik
FB: Indrawan Nugroho

 

 

Informasi training: hubungi Mona di 021-29-400-100 atau 0816-1615-3-16

Subscribe Video Motivasi Jamil Azzaini di Youtube Channel Kubik Training

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends