Kubik Leadership / Innovate For Impact

Jakarta, 2 Mei 2018 – Jika dicermati, saat ini banyak perusahaan hebat yang terus naik revenuenya ,PBV ( Price Book Value) aman, financialnya sehat, cabangnya terus bertambah begitu juga karyawan semakin banyak, tiba tiba collapse. Bahkan perusahaan dunia seperti Toys R US, Kodak, Disc Tara, Payless Gymboree pun harus bankrut. Hal ini disebabkan karena telah tejadi gelombang perubahan yang sangat besar yang me disrupt model bisnis yang ada. Hal ini ditandai dengan adanya revolusi teknologi digital, atau yang lebih awam dikenal Internet of Things ( IoT), disamping preferensi pelanggan pun berubah drastis, mereka ingin lebih cepat, murah dan lebih nyaman.

Selain ritel, industri lainnya pun akan berdampak, seperti perbankan. Beberapa Bank Nasional telah menutup kantor cabang dan meniadakan fungsi teller, bisnis remittance dan pembayaran akan pindah, kredit juga akan beralih. Industri pendidikan pun juga akan terpengaruh. Kampus mulai digantikan online learning. Kampus di Inggris dan Amerika Serikat bisa bertahan karena mahasiswa yang datang dengan beasiswa yang berasal dari negara berkembang.

Bisnis transportasi pun mengalami disrupsi. terutama taksi. Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menyatakan, jumlah perusahaan taksi turun drastis. Dari 35 perusahaan di Jakarta, kini hanya tinggal empat yang masih aktif mengoperasikan armadanya, karena kalah bersaing dengan transportasi online. Pelanggan lah yang paling beruntung karena dimudahkan dalam memesan transportasi, dengan harga yang lebih murah dan kenyamananpun bertambah.

Berdasarkan serangkaian kejadian diatas, praktisi SDM dari Kubik Leadership, Jamil Azzaini menilai bahwa kunci agar dapat bertahan dan mendapatkan keuntungan besar adalah dengan membaca situasi yang ada dengan cepat dan melakukan perubahan dengan cepat pula. Tahun 2000 ketika email masih jaya-jayanya, Yahoo pernah merasakan valuasi 125 milyar dolar. Namun saat diakuisisi Verizon 17 tahun setelahnya pasrah di harga 5 milyar dolar. Hal ini karena momentum telah lewat. Untuk itu seorang Leader harus peka dan cepat mengambil keputusan, membuat terobosan dan tidak lupa membangun tim agar mindsetnya berubah menjadi digital mindset dan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan. Kini, tanpa disadari kita telah masuk ke era exponential leader.

Menurut Jamil hanya ada dua kemungkinan yang terjadi di era exponential ini. Pertama, untuk perusahaan yang sudah memiliki ekosistem dan teknologi besar, akan merajai industrinya. Winner takes all. Semua akan disapu bersih. Baru kejadian di April ini, Uber di ambil Grab. Kemudian kedua yang masih lebih baik, terpaksa harus bekerjasama dengan saingan yang telah menggerogoti bisnis kita, seperti bluebird dengan gojek.

Seorang exponential leaders akan menikmati pertumbuhan bisnis exponential, keuntungan pun bisa berpuluh, beratus bahkan beribu kali lipat dengan jumlah nominal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Memahami krusialnya peran pimpinan, PT.Kubik Kreasi Sisi Lain (Kubik Leadership) sebuah perusahaan di bidang pengembangan SDM meluncurkan produk terbarunya yaitu Public Training EXPONENTIAL LEADER-Lead to Create the Future by Transforming People. Public Training Exponential Leader membahas secara tuntas era exponential, lengkap dengan prinsip prinsip penting yang harus dimiliki seorang leader dan senjata rahasia yang harus dijalankan agar mendapatkan keuntungan exponential yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Public Training Exponential Leader dibawakan oleh Jamil Azzaini bersama business Innovator, Indrawan Nugroho. Jamil Azzaini dikenal sebagai inspirator suksesmulia yang telah menginspirasi lebih 1 juta orang, baik dalam dan luar negeri. Selain inspirator, ia juga seorang penulis buku dan pengusaha. Pada tahun 2016 ia mendirikan Kubik Leadership dan saat ini menjabat sebagai CEO. Tercatat ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Dompet Dhuafa Republika dan sebagai komisaris dibeberapa perusahaan.

Public Traing Exponential Leader secara perdana diselenggarakan pada 2 Mei 2018 bertempat di Aston Priority, Simatupang, Jakarta Selatan. Dihadiri 170 peserta terdiri dari 26% CEO dan 44% managers.