People connecting jigsaw pieces of a head together

Kubik Leadership / Lead For Impact

Rekan bisnis saya berkata “kehidupan sekarang sudah tidak seperti balapan mobil Paris Dakar lagi. Meski Paris Dakar itu liar dan menantang sepertinya halnya kehidupan, tetapi kita sudah tahu startnya dimana, finishnya dimana dan jalurnya kita sudah mengerti. Saat ini sungguh sudah sangat berbeda. Kita tidak tahu apa kita bisa sampai garis finish. Kita menghadapi rute bisnis yang benar-benar VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambigue).

Dalam kondisi seperti ini, sudah sepatutnya kita melakukan beberapa pergeseran mindset kehidupan agar kita tidak tersesat atau hilang dari peredaran. Banyak pergeseran mindset yang seyognyanya kita lakukan, namun setidaknya tiga hal berikut yang perlu kita prioritaskan.

Pertama, dari menjadi yang terbaik berubah menjadi yang beruntung. Selama ini, salah satu jargon bisnis yang sering kita dengar adalah “jadilah yang terbaik” Dan kini sudah kita saksikan, perusahaan-perusahaan yang dulu menjadi perusahaan terbaik ternyata sudah mulai kelimpungan bahkan beberapa diantaranya sudah dinyatakan pailit.

Ubah paradigma jadilah yang terbaik menjadi jadilah yang beruntung. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Profesor Chengwei Liu dari Warwick Business School dan Profesor Mark de Rond dari University of Cambridge Judge Business School. Salah satu kesimpulan yang menarik dari riset yang dilakukan dua guru besar itu adalah “belajar bagaimana meningkatkan KEBERUNTUNGAN Anda dan bisnis Anda itu lebih penting daripada belajar tentang ciri-ciri orang atau bisnis yang sukses.”

Faktanya memang, banyak orang atau bisnis yang berhasil karena keberuntungan. Sahabat saya dari group Astra mengatakan “banyak pemimpin berhasil karena dapat durian runtuh, bukan karena kehebatan strateginya.” Saatnya kita banyak belajar “bagaimana kita bisa mendapatkan keberuntungan dalam hidup dan bisnis atau karir yang kita jalani?” Silakan belajar ke tim Kubik Leadership  yang sudah memiliki formula bagaimana agar kehidupan dan bisnis atau karir kita dipenuhi keberuntungan.

Kedua, stop benchmarking to next practices. Dulu kita dianjurkan melakukan benchmark (belajar kepada ahli yang sudah mempraktekkannya). Saya termasuk salah satu pelakunya. Pada tahun 2000 saya pernah melakukan benchmark ke Malaysia dan Philipina untuk belajar langsung kepada ahlinya, dan memang sepulang dari sana, saya membawa banyak perubahan besar di institusi tempat saya bekerja. Namun, saat ini dunia berubah begitu cepat, apabila kita menerapkan apa yang orang lain sudah lakukan beberapa tahun sebelumnya, kita bisa menjadi usang dan tertinggal.

Mulailah belajar next practice, belajar kepada ahlinya diperlukan apabila yang mereka ajarkan adalah antisipasi masa depan bukan cerita kesuksesan masa lalunya yang lebih dominan. identifikasi peluang yang potensial dimasa yang akan datang. Siapkan berbagai keahlian atau kebutuhan yang diperlukan dimasa yang akan datang. Boleh jadi apa yang kita pelajari dan siapkan mengalami kegagalan tetapi itu menjadi bekal terbesar persaingan dimasa yang akan datang. Terus pelajari berbagai hal yang diperlukan dimasa yang akan datang, jangan hanya satu hal.

Ibarat dunia persilatan, persaingan semakin ketat, para pesilat memiliki banyak jurus andalan. Diperlukan banyak jurus untuk memenangkan “perkelahian” dimasa yang akan datang, jangan hanya memiliki satu jurus karena itu membuat kita akan kalah dalam pertarungan. Pertanyaan saya, hal baru apa yang sudah Anda pelajari untuk menambah jurus baru sehingga Anda siap bertanding dimasa yang akan datang? Tolong renungkan dan jawab pertanyaan ini ya. Serius.

Terkadang kita perlu terlihat bodoh untuk mempelajari hal yang baru. Diamlah, dengarkan, pelajari setelah itu kembangkan. Steve Job pernah berpesan “tetaplah lapar, tetaplah BODOH.” Perasaan pintar, serba tahu, serba bisa di era sekarang justeru membuat kita benar-benar tertinggal. Selalu pelajari ilmu dan keahlian yang bisa menjawab kebutuhan dimasa yang akan datang. Dan untuk punya semangat belajar ini, kita perlu menyadari bahwa kita masih bodoh.

Ketiga, ubah ketakutan menjadi peluang. Dunia yang berubah begitu cepat terkadang menjadi ancaman bagi sebagian orang, khususny bagi mereka yang menyukai zon nyaman. Ubah ancaman menjadi peluang yang bisa kita manfaatkan untuk memenangkan persaingan. Mindset ini akan membuat kita terus bertumbuh dan terus berpikir positif bahkan berpeluang besar kita bisa turut menjadi inspirator bagi perubahan yang terjadi.

Dibalik ketakutan pasti ada peluang, dibalik musibah ada anugerah, dibalik perubahan ada banyak alternatif kebaikan yang bisa kita tawarkan. Dibalik perubahan yang begitu cepat ada berbagai keuntungan yang berlipat. Begitulah selalu pikiran seorang yang bermental leader.

Nah, Siapkah Anda melakukan pergeseran mindset? Apabila Anda menjawab “saya belum siap” maka bersiaplah Anda untuk segera “sunset” alias tenggelam, kalah dalam persaingan. So, segera geser mindset Anda, setidaknya untuk 3 mindset tersebut di atas. Siap?

Salam SuksesMulia!

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends