Yang harus dilakukan jika Anda sedang mengalami stuck, merasa tidak kreatif atau bahkan merasa buntu mencari solusi

 

“Jika Semuanya Mungkin”

 

Dalam sesi coaching, ada kalanya coachee mengalami kebuntuan dalam meng eksplorasi pemikiran pemikirannya. Hal ini bisa jadi muncul dalam bentuk diam yang terlalu lama, menjawab dengan berputar putar atau bahkan secara lugas mengatakan bahwa ia buntu dan belum menemukan pemikiran atau gagasan apapun.

 

Hal ini sangat alamiah dan wajar terjadi. Tidak selamanya sesi coaching berjalan mulus dan coachee mampu meng gali pemikirannya dengan optimal. Bahkan tidak menutup kemungkinan, seorang coach perlu menghentikan dulu sesi coaching nya jika dirasa kondisinya tidak memungkinkan bagi coachee untuk menjalani sesi coaching.

 

Banyak faktor yang membuat coachee kesulitan menemukan jawaban, ide atau pemikiran yang perlu diutarakan. Saya tidak akan membahas semuanya di tulisan ini. Saya hanya akan membahas satu hal, yaitu asumsi. Yes, asumsi.

 

Asumsi yang bersarang di benak, sering kali memberikan batasan pada daya jelajah pemikiran seseorang. Yang saya maksud adalah asumsi asumsi yang tidak memberdayakan dan justru menutup potensi yang dimiliki. Tidak semua asumsi buruk, namun jika yang tertanam lebih banyak asumsi yang membuat seseorang powerless, maka asumsi itu perlu ditantang atau dibenturkan dengan asumsi yang lebih memberdayakan.

 

Asumsi biasanya muncul dari pengulangan pola yang sama terhadap suatu kejadian, dan benak mengakui hal itu sebagai kebenaran. Jika hal itu sudah terjadi, maka manusia akan beroperasi menjalani hidup menggunakan asumsi itu sebagai pedomannya.

 

Asumsi dapat mewujud dalam bentuk kata kata yang melimitasi kemampuan seseorang untuk berpikir liar dan diluar kebiasaan, seperti “tidak mungkin”, “tidak bisa”, “mustahil”, “pasti sulit”, dll

 

Apa yang perlu dilakukan oleh seorang Coach jika menghadapi coachee yang stuck atau merasa buntu dengan asumsi asumsi yang terlanjur terbenam di kepalanya?

 

Salah satu pertanyaan favorit dan sering saya gunakan sebagai senjata pamungkas adalah pertanyaan yang diawali oleh, “Jika seandainya semuanya mungkin….”

 

Kalimat pembuka ini diterima oleh otak kita sebagai sesuatu yang tidak nyata. Namanya juga seandainya, berarti ini seolah olah nyata, dan bukan benar benar nyata. Maka, otak akan berhenti untuk menganalisa dan membatasi pemikirannya, dan mulai memberikan ruang untuk pemikiran pemikiran baru yang tidak disabotase oleh kata “tidak mungkin” dan “tidak bisa”.

 

Dari sinilah akhirnya coachee mampu mendobrak batasan batasan yang diciptakan oleh kepalanya sendiri dan menemukan pemikiran pemikiran baru yang sebelumnya tertutupi. Pertanyaan, “Jika seandainya semuanya mungkin…” juga memberikan rasa aman bagi otak untuk berani mengeksplorasi hal hal baru.

 

Jadi jika anda sedang mengalami stuck, merasa tidak kreatif atau bahkan merasa buntu mencsri solusi solusi yang baru, anda bisa mulai mencoba menggunakan pertanyaan ini dan rasakan dahsyatnya otak kita mengakses hal hal yang luar biasa. Selamat mencoba!

 

Salam SuksesMulia!

 

Andra Donatta

Personal Development Coach

 

#KubikLeadership
#LeadForImpact
#KubikCoaching
#PowerfulTrainers

 

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends