Kubik Leadership / Lead for Impact

Siapa yang sangka bahwa pandemi COVID-19  akan terjadi sampai saat ini? Sejak terdapat kasus COVID-19 pertama di Indonesia, yaitu pada tanggal 2 Maret 2020, perusahaan mempersiapkan diri untuk full time work from home (WFH). Tentunya, terdapat hambatan-hambatan yang terjadi saat work for home dilaksanakan. Memantau masing-masing karyawan dari jarak jauh agar engage dengan pekerjaannya adalah suatu tantangan besar bagi seorang  pemimpin. Mengutip dari International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2021 yang berjudul Six key advantages and disadvantages of working from home in Europe during COVID-19, hambatan-hambatan yang terjadi saat WFH antara lain; kurangnya interaksi sosial, ketidakpastian kerja, dan alat penunjang pekerjaan yang tidak memadai.

Tiga hal di atas dapat membuat situasi kerja menjadi tidak kondusif. Namun, terlepas dari adanya pandemi, situasi kerja yang tidak kondusif dapat saja terjadi pada perusahaan mana pun. Situasi seperti ini dapat memudarkan nilai-nilai perusahaan dan menghambat misi yang sedang dijalankan. Oleh karena itu, peran pemimpin harus menjadi change agent untuk mengarahkan kepada perubahan yang lebih baik. Lalu, apa saja yang dibutuhkan pemimpin untuk menjadi change agent?

1. Memiliki Visi dan Misi yang Kuat

Jika berbicara mengenai ‘perubahan’, maka hal itu tidak terlepas dari pandangan akan masa depan. Seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi yang tertanam di dalam dirinya. Visi dan misi juga harus disampaikan dan didiskusikan bersama anggota tim. Dengan begitu, anggota tim dapat menyadari bahwa mereka harus melakukan perubahan. Selain itu, anggota tim juga dapat memiliki keyakinan pada diri Anda sebagai pemimpin mereka. Keyakinan yang dimaksud adalah  keyakinan  bahwa Anda akan memimpin anggota tim untuk menjalankan visi dan misi bersama-sama.

2. Menjadi Pendengar yang Baik

Jika Anda sudah memiliki visi dan misi yang jelas, Anda juga perlu mengingat bahwa pendapat anggota tim Anda penting untuk melakukan perubahan. Pada situasi kerja WFH di mana Anda memiliki keterbatasan untuk memantau anggota tim, Anda dapat mencoba untuk mendengarkan pendapat anggota tim mengenai situasi yang sedang ia alami. Menjadi pendengar yang baik bagi anggota tim akan  memperluas pandangan Anda agar melakukan perubahan yang sesuai dengan situasi yang terjadi.  

Bagaimana cara menjadi pendengar yang baik? Saat Anda mendengarkan keluh kesah anggota tim, cobalah untuk tidak mengarahkahkan pembicarannya. Biarkan ia mengeluarkan pendapatnya. Setelah ia menyampaikan pendapatnya, cobalah untuk merangkum apa saja yang ia katakan untuk mengkonfirmasi bahwa Anda memahami pendapatnya.

3. Berkomunikasi Asertif

Menjadi change agent tidaklah mudah karena tidak semua orang menyukai perubahan. Oleh karena itu, tantangan selanjutnya adalah bagaimana  pemimpin dapat menyampaikan perubahan itu agar dapat diterima oleh anggota tim. Bagaimana cara penyampaiannya? Berkomunikasi secara asertif adalah gaya komunikasi yang paling tepat bagi seorang pemimpin. Dengan begitu, Anda dapat menyampaikan pendapat mengenai perubahan yang Anda harapkan tanpa menghakimi pendapat orang lain.

4. Mendorong orang lain untuk melakukan perubahan

Mendorong orang lain dalam melakukan perubahan bukan hanya disampaikan oleh kata-kata saja. Namun, Anda juga harus menujukkan sikap-sikap yang sesuai dengan tujuan Anda. Menurut Vito, Higgins dan Denney (2014), pada artikel yang berjudul Transactional and transformational leadership: An examination of the leadership challenge model, karisma seorang pemimpin dapat memotivasi perilaku anggotanya. Karisma ini dibutuhkan agar anggota merasa bahwa mereka membutuhkan sosok pemimpin untuk memberikan approval. Tentunya, hal ini dapat mendorong anggota tim untuk melakukan perubahan. Seorang pemimpin juga harus bisa menjadi role model bagi pengikutnya. Jika sikap yang Anda tunjukkan sesuai dengan perkataan Anda, hal itu dapat menjadi menjadi motivasi anggota tim untuk ikut melakukan perubahan.

5. Konsisten Melakukan Perubahan

Apakah Anda akan mempercayai orang yang selalu memiliki jawaban berbeda dari pertanyaan yang sama? Jika pemimpin tidak konsisten dalam melakukan sesuatu, hal ini akan mengurangi trust anggota tim kepada pemimpinnya. Oleh karena itu, jika Anda secara konsisten melakukan perubahan, maka anggota tim Anda dapat menaruh trust kepada Anda.

Dengan melakukan lima cara di atas, Anda dapat menjadi pemimpin yang juga berperan sebagai change agent bagi tim Anda. Walaupun perubahan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi tidak ada kata terlambat untuk berubah. Mulai dari sekarang, Anda dapat menjadi change agent bagi tim Anda untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik

Salam bertumbuh,

Salam SuksesMulia!

 

Referensi:

Baer, L. L., Duin, A. H., & Bushway, D. (2015). Change Agent Leadership. Planning for Higher Education43(3).

Berty, T., T., S., (2020). Kasus Pertama Virus Corona di Indonesia Jadi Sorotan Dunia. Liputan 6.https://www.liputan6.com/global/read/4191815/kasus-pertama-virus-corona-di-indonesia-jadi-sorotan-dunia

Ipsen, C., van Veldhoven, M., Kirchner, K., & Hansen, J. P. (2021). Six key advantages and disadvantages of working from home in Europe during COVID-19. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(4), 1826.

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior. Pearson education limited.

Vito, G. F., Higgins, G. E., & Denney, A. S. (2014). Transactional and transformational leadership: An examination of the leadership challenge model. Policing: An International Journal of Police Strategies & Management.