Kubik Leadership / Lead for Impact

Almost everything will work again if you unplug it for a few minutes, including you.” – Anne Lamott

Ketika mendengar istilah unplug, boleh jadi yang langsung terpikir adalah kabel listrik yang dicabut dari stop kontak. Ya, karena memang secara harfiah kata unplug bermakna cabut atau melepaskan diri dari hal yang sebelumnya tersambung dengannya. Dan pada benda-benda elektronik yang tersambung dengan aliran listrik, proses unplug sejenak memang merupakan sesuatu yang kerap dibutuhkan untuk membuat beragam perangkat tadi kembali bisa berfungsi dengan optimal.

Hal yang menarik adalah, ternyata proses unplug sejenak adalah proses yang juga penting untuk kita sebagai manusia lakukan. Khususnya bagi kita yang menjalani peran sebagai pemimpin. Karena ibarat perangkat elektronik, tak jarang diri kita sebagai pemimpin mengalami kondisi ‘kelebihan beban’ atau overwhelmed yang berpotensi untuk membuat kinerja diri kita tidak maksimal.

Bahkan, bisa terjadi ‘korsleting’ dan juga kerusakan permanen di diri kita, yang pada kondisi terparah bisa membuat kita tidak bisa berfungsi lagi, alias tinggal nama saja di dunia ini.

Terlebih di masa new normal hari ini. Beragam pergeseran yang terjadi pada apek-aspek kepemimpinan kita telah memunculkan beragam tuntutan dan ekspektasi atas peran kepemimpinan yang dipercayakan kepada kita. Itulah mengapa penting untuk kita mempraktekken proses unplug secara tepat, sehingga diri kita dapat tetap berfungsi maksimal, meski ketika beragam tantangan baru silih berganti menerjang.

Lantas unplug seperti apa yang perlu kita lakukan, dan bagaimana proses unplug bisa membantu kita sebagai pemimpin untuk tetap bisa berfungsi secara optimal?

 

Unplug yourself through mindfulness

Mengutip yang disampaikan oleh Tamara Levitt, Head of Content at the Meditation app, Calm, proses unplug adalah pengibaratan atas aplikasi mindfulness. Apa itu mindfulness?

Secara definisi, mindfulness mengandung arti sebuah keadaan mental yang dicapai dengan memusatkan kesadaran diri kita pada saat sekarang. Sebuah keadaan hadir penuh dan sadar utuh atas apa yang terjadi saat ini dan di sini. Menyadari sepenuhnya apa sensasi fisik yang tengah muncul, apa emosi yang tengah kita rasakan, dan apa hal-hal yang tengah kita pikirkan.

Ketika kita mempraktekkan mindfulness, seolah kita tengah ‘keluar’ dari diri kita, mengambil jarak, dan kemudian melihat dan mengamati diri kita dari luar. Hal ini kemudian dapat berdampak untuk kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih jelas, lebih objektif, lebih komprehensif, dan lebih tenang. Dampaknya, terutama bagi kita sebagai pemimpin sangatlah krusial. Dampak pada pengambilan keputusan, dampak dalam penyikapan atas setiap hal, dan dampak berupa reaksi VS respon yang kita berikan. Yang bukan hanya kepada diri kita sendiri, melainkan juga kepada tim yang kita pimpin, organisasi tempat kita bekerja, pelanggan yang kita layani, dan seterusnya.

Lantas seperti apa gambaran cara kerja mindfulness sehingga kita bisa meraih dampak terbaik pada hal-hal di atas?

 

Mindfulness help us to slow down.

Hari demi hari, beragam tugas yang disertai tantangannya masing-masing datang silih berganti. Bahkan tak jarang terdapat sejumlah hal yang menuntut fokus kita di saat yang bersamaan. Hal-hal inilah yang kemudian begitu menyibukkan diri kita. Menjalani hari layaknya berkejaran dengan waktu dan dengan beragam hal yang perlu dilakukan. Diri kita begitu sibuk dan dipenuhi dengan setumpuk agenda sehingga kita terkadang luput menyadari apa yang saat ini sebenarnya tengah terjadi dan dibutuhkan, khususnya oleh diri kita sendiri.

Maka tak jarang kita temui seorang pemimpin yang sampai lupa makan, pemimpin yang setiap berinteraksi pembawaannya auto diskusi dan analisa, pemimpin yang tiba-tiba terkena serangan jantung, dan sebagainya. Hal-hal ini terjadi karena diri kita begitu diforsir untuk berproses, ibarat mesin yang digenjot bekerja dengan tenaga maksimal dalam waktu terus menerus.

Ketika kita menerapkan mindfulness, maka proses yang terjadi di dalam diri kita adalah proses slowing down. Ya, ibarat mesin, mindfulness membantu diri kita untuk bisa melambat, khususnya ketika kehidupan menghadirkan banyak hal untuk menyibukkan diri kita.

Di saat kita slowing down, maka sesungguhnya kita tengah membantu diri kita sendiri untuk bisa betul-betul hadir penuh dan sadar utuh dengan apa yang terjadi saat ini. Ia membantu kita untuk benar-benar terlibat dan menikmati saat ini, mengenali sensasi tubuh kita, membantu kita bernafas dengan lebih penuh dan dalam, serta membantu kita untuk sadar dan mengenali perasaan kita saat ini. Dan slowing down pada akhirnya akan memberikan kita gambaran yang lebih jelas akan apa yang kita butuh dan perlu lakukan saat ini.

 

Mindfulness offers us choice.

Ketika kita dihadapkan pada situasi yang sulit dan menekan, maka yang umumnya muncul dari diri kita adalah berupa reaksi atas stimulus yang menerpa kita. Sehingga tak jarang, seseorang yang berada di bawah tekanan kemudian melakukan hal-hal yang setelahnya ia sesali belakangan. Kata-kata yang menyakitkan orang lain, keputusan yang tergesa-gesa, dan lain-lain. Hal ini terjadi karena pada situasi yang menekan, kita seolah tidak memiliki pilihan lain kecuali bereaksi sesuai stimulus yang datang.

Ketika kita melakukan unplug melalu proses mindfulness, kita berpeluang untuk dapat berhenti sejenak dan mengambil jeda atas stimulus yang hadir kepada kita. Dengan mengambil jeda, kita akan mampu memproses stimulus yang hadir dengan lebih obyektif, dan lebih bijak. Maka alih-alih bereaksi spontan, kita justru mampu menemukan pilihan-pilihan atas apa yang sebenarnya bisa kita pilih untuk lakukan, dan apa yang sebaiknya kita lakukan. Khususnya dalam peran kita sebagai pemimpin.

Misalnya, saya kerap mengambil contoh sederhana layaknya iklan salah satu produk air mineral dimana salah satu pelanggan di restoran padang meneriaki pramusaji di restoran tersebut dengan kalimat “Uda, ada otak nggak?!”.  Si Uda ini tidak lantas menampilkan reaksi marah kepada si pelanggan, melainkan ia diam sejenak dan kemudian menelaah dan menyadari bahwa yang dimaksud si pelanggan adalah menu gulai otak yang disajikan di restoran tersebut.

Maka sama halnya dengan diri kita sebagai pemimpin. Ketika hadir stimulus-stimulus yang menekan diri kita, unplug akan membantu kita untuk mengambil jeda sehingga kita akan bisa menelaah pilihan-pilihan yang sejatinya ada di hadapan kita.

 

Itulah tadi penjelasan singkat tentang pentingnya kita sebagai pemimpin untuk melakukan proses unplug sejanak melalui mindfulness dan bagaimana mindfulness bekerja. Membantu kita untuk bisa lebih optimal dalam menghadapi beragam tantangan yang hadir di dalam hidup kita, khususnya dalam menjalani peran sebagai pemimpin. Lantas apa saja sesungguhnya hal-hal yang kini menjadi tantangan bagi banyak pemimpin hari ini? Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa mendapatkan inspirasi melalui e-book gratis yang kami berikan melalui link bit.ly/EBOOKWTN Selamat menikmati, dan semoga kita bisa menjadi pemimpin yang betul memimpin dalam era new normal hari ini!

Salam bertumbuh, salam SuksesMulia!