KUBIK LEADERSHIP / Lead for Impact

 

Perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadikan pemimpin harus lebih cepat tanggap dalam menangkap perubahan-perubahan yang terjadi saat ini. Terlebih, pandemi COVID-19 juga mendorong perusahaan untuk berdaptasi dengan kondisi yang tidak pasti. Oleh karena itu, ada beberapa aspek-aspek yang wajib dimiliki oleh pemimpin di era sekarang.

Paul Leinwand, Mahadeva Matt Mani, dan Blair Sheppard melakukan penelitian dan menemukan enam paradoks yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Keenam paradoks ini adalah Strategic Executor, Humble Hero, Tech-Savvy Humanist, Traditioned Innovator, High-Integrity Politican, dan Globally-Minded Localist. Pada artikel ini, kita akan berfokus pada paradoks yang pertama, yaitu Strategic Executor.

Apa yang dimaksud dengan Strategic Executor? Seorang pemimpin harus memiliki tujuan jangka panjang untuk kemajuan perusahaan yang dipimpinnya. Maka dari itu, pemimpin harus memiliki strategi yang baik. Pemimpin harus memikirkan tujuan-tujuan untuk dicapai perusahaan di masa depan, bahkan ditengah-tengah keadaan yang tidak pasti. Pemimpin juga menjadi penujuk arah dari tujuan tersebut. Namun, disaat yang bersamaan, pemimpin juga harus menjadi executor. Pemimpin harus memiliki tujuan jangka pendek untuk megeksekusi langkah-langkah yang akan diambil. Kemampuan ini menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh pemimpin, mengingat pekembangan teknologi menjadi semakin cepat, eksekusi yang dilakukan juga harus cepat dan tepat. Kemampuan decision making yang baik juga sangat dibutuhkan untuk melakukan eksekusi yang tepat.

Lalu, bagaimana cara agar strategi yang Anda miliki sejalan dengan eksekusi yang dilakukan? Merujuk pada Paul Leinwand and Joachim Rotering, mengembangkan strategi pada kehidupan sehari-hari merupakan hal yang perlu diperhatikan agar strategi yang Anda miliki dapat dieksekusi dengan baik. Misalnya, apa saja program yang dapat terbentuk dengan strategi yang Anda miliki? Apakah strategi yang Anda miliki sesuai dengan cara kerja anggota tim Anda? Dengan begitu, eksekusi yang Anda lakukan dapat berjalan sesuai dengan strategi yang Anda miliki.

Kedua aspek ini sangat penting untuk dimiliki seorang pemimpin. Lalu, apa saja akibat jika pemimpin tidak menjadi Strategic Executor yang baik? Alvarez-Miranda dan Watkins di dalam artikel yang berjudul How New CEOs Can Balance Strategy and Execution menyatakan bahwa terdapat bias-bias yang dapat menghambat seorang CEO baru untuk menjadi Strategic Executor, yaitu:

  1. Eksekusi tidak tepat sasaran

Eksekusi yang dilakukan pemimpin tidak sesuai dengan potensi yang ada pada anggota tim.

  1. Terlalu cepat membuat keputusan

Salah satu kekeliruan yang mungkin saja dilakukan oleh pemimpin adalah mengambil keputusan untuk anggota tim dengan terlalu cepat, sehingga keputusan yang diambil tidak dipertimbangakan secara matang.

  1. Strategi tidak dikembangkan

Pemimpin gagal untuk mengembangkan strategi mereka ke dalam tindakan yang nyata.

Walaupun masalah yang disebutkan di atas lebih sering dialami oleh seorang pemimpin baru, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau pemimpin yang sudah lama pun dapat mengalami masalah tersebut. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, Anda perlu melakukan evalusasi diri agar Anda dapat mengetahui apakah Anda sudah menjadi Strategic Executor yang baik bagi perusahaan atau organisasi yang Anda pimpin.

Salam SuksesMulia!

Referensi

Alvarez-Miranda, M. & Watkins, M. D. (2021, July 13). How New CEOs Can Balance Strategy and Execution. Harvard Business Review. https://hbr.org/2021/07/how-new-ceos-can-balance-strategy-and-execution

Leinwand, P., Mani, M. M., Sheppard, B. (2021, April 23). 6 Leadership Paradoxes for the Post-Pandemic Era. Harvard Business Review. https://hbr.org/2021/04/6-leadership-paradoxes-for-the-post-pandemic-era

Leinwand, P. & Rotering, J. (2017, November 17). How to Excel at Both Strategy and Execution. Harvard Business Review. https://hbr.org/2017/11/how-to-excel-at-both-strategy-and-execution