Kubik Leadership / Lead for Impact

Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.” (Oprah Winfrey)

Belajar dari perjalanan hidup sosok besar dunia, ternyata tak sedikit yang memulai perjalanan kesuksesannya dari titik nol. Atau bahkan dari titik minus. Sebut saja salah satunya Oprah Winfrey, sosok yang hingga kini menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Tanpa perlu menceritakan panjang lebar terkait sosok Oprah Winfrey, salah satu hal yang saya rasa penting untuk menjadi perhatian kita adalah terkait pembelajaran apa sebenarnya yang bisa kita petik dari sosoknya.

Salah satu pembelajaran terbesar adalah bahwa sejatinya kita memiliki kecukupan untuk bisa menghadapi tantangan dan kesulitan yang mampir ke dalam hidup kita ini. Tinggal bagaimana kita yang menjalani peran sebagai pemeran utama di kehidupan kita ini memilihnya. Seberapa kita berkomitmen memilih untuk lebih fokus mengenal, menyadari, dan kemudian mengoptimalkan apa-apa yang kita punya, dan kemudian menjadikannya sebagai alat untuk bisa mencapai apa-apa yang kita inginkan. Meski terkadang, di tengah jalan bisa jadi ada saja sejumlah kesulitan yang datang, bahkan secara tiba-tiba dan mengagetkan kita.

Persis yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini. Pandemi Covid-19 yang disertai beragam implikasinya nyatanya telah menghadirkan kesulitan dan tantangan masal bagi banyak orang di dunia ini. Termasuk bagi kita para pemimpin, dan termasuk pula bagi mereka yang kita pimpin.

Namun atas apa ‘masa sulit’ yang terjadi ini, betapa kita lihat munculnya respon yang berbeda dari masing-masing orang. Respon yang sebenarnya merupakan salah satu kunci untuk kita bisa selamat dan melesat dari masa sulit ini, atau justru sebaliknya, jatuh dan tersungkur.

  Pelatihan Soft Skill, Faktor Penentu Kesuksesan Perusahaan

 

Gratitude Impacts during Hard Times

Ketika berbicara soal kecukupan, ternyata kita tengah membicarakan tentang sebuah respon bernama gratitude, atau bersyukur. Sebuah konsep yang ketika ditilik lebih dalam, rupanya memiliki peluang dampak yang luar biasa. Terutama ketika berbicara tentang masa-masa sulit seperti ini.
Seperti misalnya sejumlah dampak yang saya sarikan dari buku berjudul Gratitude Works karya Robert A. Emmons, yang diantaranya adalah:

1. Bersyukur membuat kita mampu melihat kesulitan yang terjadi dengan kacamata yang lebih positif.

Salah satu hal yang didapat ketika kita bersyukur adalah, kita menjadi betul-betul tersadarkan bahwa terdapat banyak hal sejatinya berjalan baik, bahkan sangat baik meski saat tersulit sekalipun. Hal-hal yang ternyata tak jarang disadari sebagai hal yang lebih bernilai ketimbang masalah yang kini dihadapi. Kesadaran ini kemudian dapat membuat kita yang tadinya overwhelmed ketika menghadapi masalah, berubah menjadi lebih ringan ketika kemudian kembali masalah yang sama.

Ya, masalahnya tetap sama, namun bagaimana respon kita dalam menghadapinya ternyata bisa berubah menjadi lebih baik ketika kita menerapkan bersyukur.

 

2. Bersukur memberikan self-efficacy pada kita dalam mengatasi masalah di masa sulit.

Ketika kita menerapkan bersyukur, salah satu hal yang kita bisa dapatkan adalah kesadaran bahwa kita memiliki sejumlah hal yang mampu membuat kita berhasil selamat dan melesat di masa sulit ini. Baik hal-hal di dalam diri kita, maupun hal-hal yang ada di luar diri kita. Baik yang sudah menjadi sesuatu yang mewujud, maupun sesuatu yang masih berupa potensi.

Dengan adanya kesadaran ini, disadari maupun tidak akan dapat meningkatkan self-efficacy, atau kepercayaan akan kemampuan diri kita untuk bisa sukses dalam melakukan sesuatu.

  Monday Knowledge: Andakah Pemimpin yang Feedback-able?

 

3. Bersyukur membantu kita menemukan kekuatan untuk bisa mengatasi masa sulit.

Dalam menerapkan proses bersykur, salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengakses pengalaman yang terjadi di masa lalu. Masa lalu yang bisa jadi sangat berat atau sangat sulit bagi kita. Pada proses ini, yang menjadi poin utama bukanlah rasa sulit yang dialami, melainkan pada apa dan bagaimana sehingga kita bisa berhasil melalui masa sulit tersebut. pada proses inilah kita memiliki peluang untuk dapat menemukan sisi-sisi kekuatan yang sebenarnya kita miliki sehingga kita mampu mengatasi masa sulit yang terjadi.

Nah, itulah tadi tiga buah dampak yang bisa kita dapatkan ketika kita menerapkan yang namanya bersyukur. Dampak-dampak yang sejatinya penting untuk kita bisa melalui masa-masa yang kini kita hadapi. Baik kesulitan dalam bentuk sad problem (menurunnya penjualan, beralihnya perilaku customer, dst), atau happy problem (membludaknya demand dari pasar, bermunculannya ceruk pasar yang baru, dst).

Lantas apa yang perlu kita lakukan, dan bagaimana caranya untuk kita bisa menerapkan bersyukur dengan tepat dan berdampak dalam menghadapi situasi sulit hari ini?

Dalam rangka menjadi solusi bagi sebanyak mungkin pemimpin di negeri ini, setelah sebelumnya kami hadir dengan sesi webinar bertajuk Create Positive & Supportive Vibes, sebagai rangkain solusi bertajuk Leading in Crisis: Becoming The Impactful Leader During Crisis, maka pada pekan ini, tepatnya hari Rabu, 20 Mei 2020 kami akan kembali hadir dengan solusi berupa kelas webinar bertajuk Facilitate Acceptance & Gratitude. Pada sesi ini, peserta akan belajar dan berlatih untuk bisa menjadi pemimpin yang mampu bukan hanya menunjukkan syukur (gratitude) secara efektif, melainkan juga menunjukkan penerimaan (acceptance) secara tepat. Setelahnya, kita juga akan sama-sama belajar untuk bagaimana kita sebagai pemimpin dalam memfasilitasi anggota tim kita untuk juga bisa menunjukkan acceptance serta gratitude.

So, jika Anda melihat ini sebagai solusi untuk bisa semakin melesat di tengah tantangan dan kesulitan yang terjadi, yuk segera klik tautan bit.ly/WEBINARLIC dan daftarkan diri Anda beserta para pemimpin di dalam organisasi Anda.

  Sikap Yang Perlu Dijauhi Apabila Anda Ingin Menjadi Pemimpin

Sampai berjumpa di kelas webinar, salam bertumbuh, dan salam SuksesMulia!