Kubik Leadership / Lead for Impact

 

 

Life will always be hard on you, but it doesn’t mean you should give up. 

(Anurag Prakash Ray)

 

Terhitung persis satu bulan para pekerja kantoran khususnya di Jakarta menjalani pola kerja baru, yaitu bekerja dari rumah alias Work from Home (WFH). Ya, mengacu pada Seruan Gubernur Nomor 6 Tahun 2020 yang diterbitkan dan diberlakukan sejak tanggal 20 Maret 2020 lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah memerintahkan agar seluruh perkantoran di Jakarta untuk sementara waktu ditutup. Tak lain tujuannya adalah untuk memperlambat laju penyebaran virus COVID-19 di negeri ini.

Kebijakan serupa merupakan kebijakan yang memang diambil oleh sejumlah kota dan sejumlah negara di berbagai belahan dunia. Karena memang hingga hari ini masih belum ditemukan obat yang secara efektif mampu mengalahkan virus tersebut.

Alhasil bukan hanya WFH, urusan belajar mengajar di sekolah pun berubah menjadi belajar dari rumah, alias School From Home (SFH). Begitu pun hal-hal lainnya. Beribadah dari rumah, berbelanja dari rumah, bahkan mencukur rambut pun di rumah.

Maka semua hal yang tadinya dilakukan di tempat dan suasana yang berbeda, kini menjadi tersentralisasi. Di rumah. Titik. Dan tak ayal, perubahan-perubahan tersebut kemudian memberikan sejumlah dampak kepada setiap orang, tak luput para pekerja yang menjalani WFH tadi.

Lantas jika berbicara terkait dengan peran sebagai pekerja, dampak-dampak apa sebenarnya yang bisa dari WFH? Dan khususnya pada poin produktivitas, apa hal-hal yang dihadirkan dengan kita melakukan WFH?

 

WHF: Terbukti Bisa Meningkatkan Produktvitas,Tapi…..

 

Mengutip hasil kajian yang dilakukan oleh Nicholas Bloom, seorang profesor ekonomi di Stanford University, yang telah banyak menulis tentang WFH, ia menemukan bahwa bekerja dari rumah ternyata terbukti mampu membuat karyawan lebih produktif dan kecil kemungkinannya untuk ia berhenti dari tempat bekerjanya tersebut. Namun ketika berbicara WFH yang dilakukan pada masa pandemi ini, ternyata beliau menyampaikan pernyataan bahwa bisa jadi yang berlaku justru sebaliknya.

Loh kok bisa?

Ya, ternyata kondisi WFH pada situasi normal (bukan didasari adanya pandemi) tidaklah bisa bisa disamakan dengan kondisi WFH yang terjadi karena adanya pandemi. Setidaknya ada tiga buah perbedaan yang bersifat fundamental, yang membuat WFH saat pandemi menjadi rentan akan isu penurunan produktivitas.

  1. Perbedaan pada aitem PILIHAN.

Pada WFH yang terbukti dapat meningkatkan produktivitas, melakukan WFH ini merupakan sebuah keputusan yang memang dipilih oleh pekerja. Beragam yang menjadi dasar pemilihannya. Mulai dari jenis pekerjaan yang dijalani, hingga analisa bahwa bekerja di rumah bisa menghadirkan suasana yang lebih kondusif dan efektif.

Maka berbeda dengan WFH di saat pandemi terjadi. WFH bukanlah sebuah keputusan atas pilihan pribadi, yang dipilih atas dasar bahwa itu memang lebih berdampak positif terhadap produktivitas. Melainkan, hal tersebut adalah suatu kewajiban yang kemudian memberikan dampak yang berbeda pada setiap orang yang menjalaninya.

 

  1. Perbedaan pada aitem PRESSURE & REFRESHING.

Jika pada WFH normal, setelah WFH, para pekerja dapat menghabiskan waktu di luar jam kerjanya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai. Hal-hal yang memberikan penyegaran, atau sering kita sebut dengan sedang refreshing. Mulai dari main ke mall bersama teman atau orang terkasih, melakukan beragam hobi di luar rumah, mengunjungi sahabat atau sanak keluarga, dan seterusnya. Kesemuanya itu kemudian seolah menjadi charge energi untuk bisa kembali melakukan WFH dengan optimal.

Nah, beda dengan WFH di saat pandemi. Kebijakan PSBB, bahkan kebijakan lockdown di sejumlah area berdampak pada ‘terisolasinya’ pekerja di dalam rumah. Maka alih-alih refreshing di luar rumah (sebagai tempat bekerja), di rumah jugalah para pekerja harus menghabiskan keseluruh waktunya, plus beserta dengan orang-orang yang sama. Belum lagi bagi mereka tinggal bersama pasangan, anak-anak, atau sanak keluarga lainnya di rumah. Seolah tak cukup menghadapi rasa bosan dan tekanan pekerjaan, melainkan para pekerja ini juga harus pintar-pintar mengatasi rasa bosan, tekanan, dan bahkan stress yang dirasakan oleh seluruh penghuni rumah.

Kalau begitu lebih enak hidup sendiri dong? Eits, jangan salah. Ternyata tak sedikit pula pekerja yang tinggal sendirian justru mengalami tekanan yang hebat karena saat ini ia merasa ‘terkurung’ seorang diri di rumahnya.

 

  1. Perbedaan pada aitem DAMPAK SEKUNDER.

Jika pada situasi normal WFH adalah WFO (Work From Office) yang digeser ke rumah, maka pada WFH di saat pandemi pada sebagian pekerja bisa berarti bergeser pula jumlah pendapatan yang akan masuk ke rekeningnya di bulan berjalan.

Ya, faktanya sejumlah kantor yang terdampak dengan kondisi COVID-19 kemudian mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mau tidak mau berujung pada tersentuhnya aitem compensation & benefit yang diterim pekerja secara rutin. Mulai dari pengurangan tunjangan hingga ke pengurangan gaji faktanya terjadi karena menurun pula kemampuan perusahaan.

Lebih jauh lagi, langkah dan kebijakan yang dilakukan perusahaan di saat yang sama pun  bisa bermanifestasi menjadi ke dalam rasa tidak aman (insecure), rasa gelisah-galau-(bahkan) merana (gegana), dan pada akhirnya berdampak pada merosotnya produktivitas.

Wahhh… menantang juga ya situasi WFH di saat pandemi. Kalau begitu, lantas bagaimana caranya agar setiap pekerja bisa menjalani WFH ini dengan tetap menampilkan produktivitas terbaiknya? Pola pikir seperti apa yang perlu dimiliki, dan apa hal-hal yang perlu dilakukan agar WFH saat pandemi ini berlangsung?

Pertanyaan-pertanyaan yang sama ternyata telah dimunculkan dari banyak pekerja dari berbagai perusahaan. Dan dengan spirit menghadirkan solusi untuk para pekerja di beragam korporasi tersebut, kami di Kubik Leadership pada jumat tanggal 24 April 2020 nanti akan hadir dengan sebuah kelas webinar bertajuk BOOSTING WORK PRODUCTIVITY DURING CRISIS dengan keynote Speaker Bapak Jamil Azzaini (CEO Kubik Leadership) dan pembicara Bapak Andra Donatta, yang menjadi salah satu Trainer sekaligus Coach di Kubik Leadership.

So, segera daftarkan anggota tim Anda, dengan mendaftar di http://bit.ly/WebinarProductivity , atau menghubungi 082 111 999 022

Sampai jumpa di kelas BOOSTING WORK PRODUCTIVITY DURING CRISIS,

salam bertumbuh, salam SuksesMulia!