Fakta 1: Pemimpin Stres, Anggota Tim ikut Stres

Seorang pemimpin sering bekerja dalam tekanan, baik dari atasannya, dari sesama pemimpin maupun dari anggota timnnya. Hal ini sering membuat seorang pemimpin stres dan anggota timnya ikut stres. Suasana kerja menjadi tidak nyaman, “panas” dan pergi ke kantor menjadi siksaan harian yang semakin hari semakin berat.

Bekerja hanya menggugurkan kewajiban dan menunggu tanggal gajian. Sementara disisi lain, kehidupannya penuh gejolak emosi, dan hati gundah gulana tiada henti. Stres adalah sajian tiap hari tanpa diketahui kapan hal itu bisa diakhiri.

Pernah mengalami hal itu? Atau pernah menyaksikan suasana seperti itu? Apa yang Anda lakukan apabila mengalami hal tersebut?

Fakta 2: Success Story, Sudah Tidak Lagi Berfungsi.

“Hore, tahun lalu saya sukses menjadi yang terbaik.” Itu ucapan seorang pemimpin di awal tahun. Ia pun berkomitmen menggunakan strategi, taktik dan cara yang sudah terbukti tersebut di tahun berikutnya. Ternyata, hasilnya berbeda. di tri wulan pertama, ia sudah dikalahkan oleh tim lainnya. Kisah sukses hanya menjadi history, tidak lagi bisa berkontribusi terhadap prestasi.

Era VUCA: Volatility Uncertainty, Complexity dan Ambiguity memerlukan hal-hal yang baru, cepat, kreatif dan inovatif. Pengalaman masa lalu hanya cocok di zamannya, tidak bisa diandalkan lagi dimasa kini. Siapapun yang tidak fleksibel akan kalah dalam persaingan.

Apakah Anda termasuk yang masih menggunakan strategi, taktik dan cara lama? Cara baru apa yang sudah Anda lakukan? Bagaimana agar mudah dan fleksibel dalam menggunakan hal-hal yang baru?

Fakta 3: Pemimpin Lambat bahkan Takut Mengambil Keputusan

Seseorang disebut pemimpin apabila ia punya pengaruh dan terbiasa mengambil keputusan. Sayangnya, banyak pemimpin yang jarang mengambil keputusan bahkan ketakutan saat harus memutuskan. Kata yang terucap “nanti kami rapatkan, nunggu arahan, belum ada petunjuk, cari aman sajalah, gak usah ngambil resiko” dan sejenisnya.

Akhirnya anggota tim meragukan kepemimpinnya bahkan memberi label “pemimpin boneka, gak punya nyali, punya jabatan tapi gak punya keberanian”

Apakah Anda sering menunda keputusan? Atau bahkan takut saat hendak mengambil keputusan? Apa yang Anda lakukan agar Anda cepat, tepat dan berani mengambil keputusan?

Apa yang Anda lakukan apabila Anda mengalami satu, dua atau bahkan ketiganya secara bersamaan?

Anda tidak perlu melakukan banyak hal. Anda cukup mengoptimalkan fungsi dan peran otak karena ternyata otak adalah pabrik yang menghasilkan begitu banyak sikap dan perilaku.

Sayangnya, kita belum mengoptimalkan peran dan fungsi otak kita untuk meningkatkan kinerja leadership kita
Dalam bukunya Neuroscience for Organizational Change: An Evidence-based Practical Guide to Managing Change (Hillary Scarlet, Kogan 2016) diterangkan bagaimana terjadi perubahan sangat cepat dizaman ini, namun kebanyakan dari kita masih berada dalam posisi otak yang belum berubah. Otak kita tidak dirancang untuk kehidupan organisasi abad ke-21. Otak kita berpikir bahwa kita masih berada di masa lalu.

Kita menggunakan otak hanya sebatas alat untuk bertahan hidup. Padahal untuk menjadi pemimpin saat memimpin perubahan, kita harus mampu menguasai bagaimana mengembangkan pengaruh dan memfasilitasi perubahan, membawa tim siap menghadapi perubahan.

Perilaku PEMIMPIN merupakan produk dari interkoneksi dan interdependensi dari sistem otak itu sendiri. Kerusakan atau tidak berfungsinya bagian otak-otak yang secara spesifik berhubungan dengan perilaku tertentu, akan merusak perilaku tersebut pula. Oleh karena itu, perbaikan perilaku tidak lepas dari intervensi yang konstruktif terhadap otak manusia. Termasuk didalamnya peningkatan kapasitas seorang pemimpin. Dengan melatih dan mengembangkan kapasitas otak, maka kita dapat melejitkan kepemimpinan yang kita miliki.

Otak terdiri dari milyaran sel dan ratusan bagian dan juga memiliki fungsi yang sangat beragam. Namun, secara sederhana, terdapat tiga bagian otak yang berperan besar dalam melejitkan KEPEMIMPINAN kita.

Pertama, Deep-Limbic System atau Sistem Limbik Dalam.

Kedua, Pre-Frontal Cortex (PFC).

Ketiga, Anterior Cortex Cingulatus / Gyrus Cingulate / Cingulatus

Bagian otak tersebut bisa mengalami regenerasi, bersifat lentur dan bisa dibentuk dengan pola yang baru

Apabila Anda mengalami fakta yang pertama itu karena kerja limbiknya terlalu dominan

Sistem Limbik menyimpan kenangan-kenangan yang bersifat sangat emosional, sehingga terlalu membenci sesuatu atau terlalu mencintai sesuatu dapat meningkatkan aktivitas pada bagian otak ini.

Dengan demikian, Sistem Limbik ini lebih baik “kurang aktif”. Jika Sistem Limbik terlalu aktif (atau menjadi “panas”), justru kita akan terdominasi oleh pikiran negatif, stress tiada akhir. Mau? Gaklah…

Namun, ternyata Sistem Limbik tidak sendirian dalam mengelola emosi. Perlu adanya Pre – Frontal Cortex – PFC (otak nalar) untuk mengendalikan Sistem Limbik. Oleh karena itu, setiap kita dihadapkan pada sebuah pengalaman (baik ataupun buruk) yang dapat memicu emosi, PFC harus mengambil bagian agar keduanya berada pada kondisi seimbang (emosi teregulasi). Dengan kata lain, Limbik kita menjadi pintar, karena tidak hanya mengandalkan perasaan saja, tetapi juga logika/nalar. Ada teknik yang dapat dipelajari dan apabila dilatih terus-menerus, kita akan cakap dalam mengelola emosi.

EMOSI KITA PERLU DIREGULASI. Agar Anda terhindar dari hal-hal yang negatif, stres dan lebih menikmati pekerjaan. Rugi ah, jadi PEMIMPIN koq malah stres dan membuat orang lain juga stress. Akhirnya bisa bedrest lho….

Rugi banget kan?

Lantas untuk memberi solusi bagi fakta kedua, bagian otak mana yang perlu diaktifkan?

Bagian otak yang berperan agar kita selalu fleksibel adalah Cingulatus. Cingulatus memiliki fungsi seperti “Tuas Persneling” atau “Otak Kopling”. Cingulatus membuat kita dapat memindahkan perhatian dari satu pikiran ke pikiran lain, serta dari satu perilaku ke perilaku lain. Dengan kata lain, bagian ini memungkinkan kita memiliki kelenturan dalam berpikir (Cognitive Flexibility).

Namun, hati-hati apabila Cingulatus ini terlalu aktif, karena akan membuat kita justru merasa khawatir berlebihan, tidak luwes, terlalu fokus, dan menjadi terbelenggu.

Di era VUCA otak kita perlu GROW agar kita menjadi PEMIMPIN yang bisa mengikuti perkembangan zaman, fleksibel, lincah, kreatif, siap berubah.

Apabila Cingulatus para PEMIMPIN kurang optimal, nasib perusahaannya bisa seperti Kodak dan sejenisnya. Awalnya hebat, akhirnya sekarat bahkan kemudian masuk ke liang lahat alias bangkrut. Mau?

Nah, kita sampai pada fakta ke tiga. Menjadi PEMIMPIN yang terbiasa cepat dan tepat mengambil keputusan. Kira-kira, bagian otak mana yang perlu dihidupkan?

Memilih dan memutuskan sesuatu ternyata merupakan tugas utama Pre-Frontal Cortex (PFC). Layaknya seorang pemimpin yang salah satu tugas utamanya adalah membuat keputusan, PFC juga merupakan pengatur utama dalam otak. Dengan demikian, PFC juga kerap disebut sebagai Pemimpin Otak.

PFC memiliki jalur-jalur yang saraf yang sangat luas, sehingga keterlibatannya dalam pengaturan emosi juga sangat dibutuhkan. Tidak terkecuali, pada saat membuat keputusan. Proses “mengambil keputusan” (decision making) melibatkan beberapa piranti otak lainnya, yaitu Basal Ganglia dan Amygdala.

Sayangnya, aktifitas harian kita banyak sekali yang melemahkan fungsi dan peran PFC sehingga tanpa kita sadari melemahkan kita sebagai PEMIMPIN.

Contoh Kebiasaan kecil yang bisa melemahkan fungsi dan peran PFC. Misalnya: memilih baju, memilih jalan, memilih makanan, memilih aktifitas rutin dengan cara yang keliru bisa melemkan PFC dan berdampak melemahkan kemampuan decision making.

Ngerihhhhh banget kan?

apabila Anda bisa mengendalikan limbik, mengaktifkan cingulatus dan mengaktifkan pre frontal cortex maka Anda berarti telah siap menjadi PEMIMPIN yang AGILE. Mau?

Anda pingin banget, tahu caranya mengendalikan LIMBIK otak Anda sehingga EMOSI terkendali?

Anda juga ingin tahu banget caranya mengaktifkan CINGULATUS otak Anda sehingga menjadi FLEKSIBEL?

Dan Anda juga ingin tahu banget bagaimana caranya mengoptimalkan PRE FRONTAL CORTEX Anda sehingga Anda cepat dan tepat mengambil KEPUTUSAN?

Mau atau mau banget?

Kalau mau, Yuk belajar dan berlatih di Public Training Neuroleadership – Embrace Your Brain to Become Agile LEADER, yang akan diadakan pada tanggal 11-12 April 2019 di Hotel Royal Kuningan, Jakarta!
Link pendaftaran 👉 http://bit.ly/NEUROLEADERSHIP
Informasi (021) 29 400 100 / 082 111 999 022

Mari optimalkan pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya, yaitu otak. Untuk melejitkan kemampuan Leadership kita tak perlu pergi jauh-jauh karena ternyata ada di dalam diri kita

Salam SuksesMulia!

#KubikLeadership
#LeadForImpact
#PublicTraining
#Neuroleadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends