Kubik Leadership / Lead For Impact

“Nothing is permanent but change”. Tidak ada yang tetap kecuali perubahan. Sadar tidak sadar, mau tidak mau, setiap kita pasti mengalami perubahan. Termasuk dalam menjalani peran sebagai pemimpin. Beragam perubahan, baik yang kita inginkan atau tidak, kita bisa prediksi dan tidak, sejatinya akan terus hadir sepanjang nafas kita masih berhembus di dunia ini.

Jika perubahan adalah kepastian, maka bagaimana kita berespon sungguh akan sangat berbeda satu sama lain. Selain karena dipengaruhi beragam variabel dari perubahan itu sendiri, hal ini juga sangat ditentukan oleh tingkat kematangan setiap kita sebagai pemimpin. Semakin matang level kepemimpinan kita, maka semakin kita mampu menjadikan perubahan sebagai kendaraan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi sebanyak mungkin orang. Bahkan, pada level tertentu, justru kitalah yang secara menyengaja membuat perubahan itu sendiri untuk bisa menghadirkan dampak terbaik bagi banyak pihak.

Bicara level kematangan seorang pemimpin, terdapat banyak versi yang bisa kita jadikan sebagai rujukan dalam menakar seberapa matang diri kita dalam menjalani peran sebagai pemimpin. Dan kami di Kubik, berdasarkan kajian berkelanjutan yang kami lakukan, dan disertai pengalaman lebih dari dua dekade menjadi mitra korporasi di Indonesia, kami pun membagi level kematangan seorang pemimpin menjadi empat tingkatan. Berikut adalah empat level kematangan tersebut:

1. Level 1: Tuntas memimpin diri sendiri

Level kematangan yang paling mendasar adalah level dimana seorang pemimpin mampu memimpin dirinya sendiri. Salah satu ciri pemimpin pada level ini adalah, secara sadar penuh ia konsisten untuk memilih bertanggungjawab atas apa pun yang ia pikirkan, rasakan dan lakukan. Pun atas segala konsekuensi yang mengikut di belakangnya.

Maka ketika ia dihadapkan pada perubahan, ia akan secara sadar menjadikan dirinya sebagai áktor’ ketimbang sebagai ‘korban’ dari perubahan.Mindset “Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat hal ini lebih baik?” adalah mindset yang melekat di kepalanya, ketimbang mindset “Kenapa saya yang harus menerima hal ini?”.

Dan ketika hal-hal yang semakin buruk terjadi, ia tidak akan menunjuk hidung orang lain, apalagi cuci tangan dan kabur. Melainkan ia akan secara sadar memilih untuk mempertanggungjawabkan setiap hal yang ia telah lakukan, dan kemudian mengerahkan upaya terbaik untuk melakukan aksi perbaikan.

Meski pada faktanya, dari pengalaman yang temui, ternyata hal ini tidaklah melulu pasti dimiliki oleh setiap pemimpin. Bahkan pemimpin yang telah berada di jajaran manajemen atas.

2. Level 2: Tuntas memimpin orang lain

Setelah tuntas memipin diri sendiri, level kematangan selanjutnya adalah kematangan di level memimpin orang lain dan tim.

Situasi yang dipenuhi perubahan kerapkali menimbulkan kebingungan, kekhawatiran dan kegelisahan banyak pihak. Termasuk mereka yang kita pimpin. Maka salah satu ciri pemimpin di level kedua ini adalah, ketika ia mampu secara jelas menunjukkan dan mengkomunikasikan arah tuju di tengah-tengah situasi yang dipenuhi ketidakpastian. Ia mampu menjadi ‘pegangan’ bagi timnya, dan mendorong timnya untuk berfokus pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Di saat yang sama, ia mampu menggerakkan dan memberdayakan mereka yang dipimpinnya, sehingga potensi-potensi diri mereka bisa tampil secara maksimal. Ia menyadari betul bahwa kekuatan superteam lebih hebat ketimbang kekuatan seorang superman. Dan dengan mengoptimalkan potensi setiap anggota tim-lah, maka tim akan bisa melaju lebih cepat dan dahsyat dalam mencapai tujuan.

3. Level 3: Tuntas memimpin organisasi

Sebuah organisasi adalah layaknya kapal besar yang membawa sekian banyak penumpang mencapai tujuan. Di sepanjang jalan, pasti akan ada banyak masalah dan tantangan yang terjadi. Terprediksi maupun tidak, perubahan sangat bisa terjadi. Baik dari sisi manusianya, sisi sumberdaya, sisi kondisi alam, dan seterusnya.
Maka setelah seorang pemimpin tuntas memimpin dirinya sendiri dan orang lain (tim), level kepemimpin ketiga terletak pada kepemimpin organisasi.

Salah satu ciri pemimpin yang berada pada level kematangan ini adalah, ketika seorang pemimpin mampu menggerakkan sejumlah orang dengan beragam peran dan fungsi untuk secara sinergis mencapai sebuah tujuan besar bersama. Ia mampu mendudukkan setiap hal secara lebih proporsional dengan memperhatikan beragam sudut pandang dan pendekatan.

Dan ketika perubahan terjadi, ia mampu menjadikan perubahan sebagai peluang untuk membawa organisasinya kian melesat dan bermanfaat. Ia aktif menciptakan peluang-peluang baru dan membuka diri atas segala kemungkinan. Iya meyakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin, melainkan it’s only the matter of how.

4. Level 4: Tuntas memimpin peradaban

Level kematangan keempat, atau level tertinggi adalah level dimana seorang pemimpinlah yang justru secara sengaja menciptakan perubahan. Sebuah perubahan yang didasarkan pada spirit menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi banyak orang hingga ke generasi-generasi mendatang.

Pemimpin di level ini adalah ia yang mampu menciptakan sebuah era yang baru, yang sebelumnya tidak ada. Ia adalah sosok yang mengukir sejarah dan mengubah tatanan yang ada. Ia mampu mencapai sesuatu yang saat ini menjadi sesuatu yang mustahil untuk bisa terjadi menjadi nyata adanya. Seperti misalnya, dari terjajah menjadi merdeka. Dari terdiskriminasi menjadi setara. Dari terpisah jarak dan waktu menjadi terkoneksi tanpa batas.

Sosok pemimpin di level ini adalah ia yang pikiran, hati dan tindakannya mampu melampaui apa yang ada di hadapannya. Salah satu dampaknya, kepemimpinannya pun akan mampu menggerakkan banyak orang, bahkan mereka yang berada di belahan dunia yang berbeda, dan hidup di masa yang berbeda.

Sedikit orang yang mampu mencapai tingkat kematangan ini. Dan semoga saja, kita sebagai pemimpin akan mampu untuk bisa mencapai level keempat ini.

Setelah mengetahui empat level kematangan kepemimpinan di atas, berada dimanakah diri kita saat ini? Untuk mengetahuinya, akan lebih baik ketika Anda mendapatkan banyak input dari orang-orang di sekeliling Anda. Tanyakan secara tulus, dengarkan, dan terima apa yang menjadi pesan inti yang bisa menumbuhkan Anda. Ingat, keterbukaan diri Anda terhadap feedback adalah dasar yang penting untuk membuat sebuah perubahan. Untuk mengetahui seberapa Anda mampu ‘mengunyah’ feedback, Anda bisa melihatnya disini.
Setelah mendapatkan feedback terutama dari sosok sosok kunci dalam kepemimpinan Anda, lakukan penilaian secara jujur akan posisi diri Anda.

Selanjutnya, dimana pun posisi kita saat ini, semoga hal tersebut dapat secara positif menjadi umpan balik bagi diri kita sendiri dan memicu kita untuk terus bertumbuh menjadi pemimpin yang benar-benar patut memimpin.

Salam bertumbuh,
Salam SuksesMulia!

 

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends