Kubik Leadership / Lead for Impact

A leader’s most important role in any organization is making good judgments—well-informed, wise decisions that produce the desired outcomes.

– Noel Tichy and Warren Bennis

Dalam beberapa hari terakhir, Indonesia dibuat ramai oleh sejumlah topik yang seakan memecah belah massa menjadi dua kubu. Sebut saja topik virus Corona (Covid-19) dan Indonesia, topik kembali manggungnya Bunga Citra Lestari (BCL), dan topic banjir di sejumlah tempat di Indonesia.

Pada topik terkait virus Corona (Covid-19) dan Indonesia, hingga hari ini berita terkait terinfeksi-tidaknya Indonesia akan virus ini masih menjadi perdebatan. Benarkah bahwa warga negara Indonesia sebenarnya telah terjangkit namun ditutup-tutupi? Atau benarkah peralatan dan system pendekteksi virus Corona di Indonesia sebenarnya tidak update sehingga tidak mampu mendeteksi virus ini? Atau, memang betul bahwa memang Indonesia bersih dari virus ini?

Lantas pada topik kembali manggungnya BCL sebelum genap satu bulan suaminya, Ashraf Sinclair meninggal dunia, hal ini pun menimbulkan perdebatan yang tak kalah serunya. Terakhir adalah pada saat ia manggung sabtu lalu (29/2/2020), yaitu dalam konser Ronan Keating dan Christian Bautista, di Grand Ballroom Pullman, Central Park, Jakarta Barat. Atas apa yang dilakukan BCL tersebut, tak sedikit orang yang memuji, mendukung, dan menilai BCL sebagai sosok yang tegar dan bertanggung jawab. Namun di saat yang sama, tak sedikit pula orang yang menilai bahwa apa yang dilakukan BCL tidaklah pantas mengingat bahwa kepergian suaminya yang masih dalam hitungan minggu. Lantas, mana penilaian yang sebetulnya tepat?

Bicara soal penilaian yang tepat, sejatinya hal tersebut sangatlah dekat dengan keseharian seorang pemimpin. Atas situasi yang terjadi, atas informasi yang ada, dan atas segala hal yang menjadi bahan pertimbangan, hampir selalu seorang pemimpin dihadapkan untuk memberikan penilaian yang berujung pada keputusan. Dan tepat tidaknya penilaian dan keputusan yang ia ambil, sesungghnya akan sangat berdampak pada banyak hal dan banyak pihak. Padahal, atas satu hal yang sama, bisa jadi berujung pada penilaian dan keputusan yang berbeda di pemimpin yang berbeda. Mengapa? Hal ini karena selain dari hal-hal eksternal luar diri pemimpin, terdapat hal-hal di dalam diri pemimpin yang bisa mempengaruhi penilaian dan keputusannya. Sebut saja diantaranya adalah nilai-nilai apa yang diyakininya, pengalaman-pengalaman apa saja yang pernah dilaluinya, pengetahuan dan keahlian apa saja yang dimilikinya, dan seterusnya.

Lantas apa yang diperlukan untuk membuat kita sebagai pemimpin dapat memberikan penilaian yang dapat berujung pada keputusan yang tepat, atas apa pun yang dihadapkan kepada kita?

Berangkat dari pengetahuan dan pengalaman panjang seorang Sir Andrew Likierman, ia menyimpulkan adanya enam hal yang merupakan elemen dasar dari sebuah penilaian yang tepat, atau ia sebut sebagai penilaian yang baik. Dan enam hal ini merupakan sesuatu yang dapat ditingkatkan/dikembangkan. Hal tersebut ia tuliskan dalam artikel yang berjudul The Elements of Good Judgment keluaran Harvard Business Review.

Enam elemen dasar tersebut adalah learning, trust, experience, detachment, options, and delivery. Dan pada artikel hari ini, saya akan membahas dua diantaranya, yaitu learning dan trust.

 

Learning: Listen Attentively, Read Critically

Penilaian yang baik dihasilkan dari pengetahuan yang diubah menjadi pemahaman. Dan untuk bisa menjadi pemimpin yang mampu mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, dua hal penting yang wajib ditampilkan oleh seorang pemimpin adalah menjadi pendengar yang aktif dan pembaca yang baik. Terbuka terhadap semua informasi, memilah berdasarkan keakuratan sumber informasi, dan kemudian mempelajari dan menelaah informasi dengan kritis dan berhati-hati.

Meski faktanya, tak sedikit pemimpin yang memberikan penilaian yang tidak tepat karena tanpa sadar ia memilah dan menyaring infomasi berdasarkan apa yang ingin didengar dan diketahuinya. Untuk hal-hal yang tidak sesuai dengannya, ia akan cenderung mengabaikan, dan ini akan berdampak pada ketidaktepatan penilaian yang dihasilkannya.

Serta, tak sedikit pula pemimpin yang terpeleset memberikan penilaian yang tidak tepat karena ia tidak cukup kritis atas apa yang ia dengar dan ia baca. Semua informasi yang datang padanya ia telan apa adanya, tanpa menelaah keakuratan informasi yang ia terima.

Ditambah, ketika berbicara tentang pendengar yang aktif, maka kita sebagai pemimpin juga perlu untuk terus belajar dan berlatih mendengar hal-hal yang tidak disampaikan oleh kata-kata. Munculnya bahasa tubuh tertentu, perubahan gerak-gerik, dan timbulnya perilaku yang berbeda merupakan beberapa contoh hal yang perlu kita ‘dengarkan’ secara seksama sebagai salah satu input dalam menghasilkan sebuah penilaian.

 

Trust: Seek Diversity, Not Validation

Kepemimpinan tidaklah berarti buah dari upaya seorang single-fighter. Melainkan, seorang pemimpin dapat memanfaatkan keterampilan dan pengalaman orang lain, serta pengalamannya sendiri ketika ia dihadapkan untuk memberikan penilaian dan keputusan. Maka siapa saja sosok-sosok yang dijadikan ‘penasehat’ oleh seorang pemimpin, dan seberapa besar kepercayaan pemimpin terhadap mereka sangatlah berpengaruh terhadap kualitas penilaian dan keputusan yang akan diambil oleh seorang pemimpin.

Sayangnya, banyak pemimpin di level CEO dan pengusaha yang memilih orang-orang yang selalu mengiyakan dan mendukung mereka sebagai sosok ‘penasehat’nya. Sebaliknya, mereka yang memiliki sudut pandang yang berbeda kerap dianggap sebagai pembangkang yang perlu disingkirkan. Padahal, sejumlah sosok pemimpin sukses kelas dunia telah menunjukkan bahwa, penilaian dan keputusan yang baik berawal dari hadirnya beragam sudut pandang dan pendapat yang berbeda.

Sebagai contoh adalah seperti yang disampaikn oleh sejarawan Doris Kearns Goodwin. Dalam bukunya yang berjudul Team of Rivals, ia mencatat bahwa Abraham Lincoln mengumpulkan kabinet para ahli yang ia hormati tetapi yang tidak selalu setuju satu sama lain. Contoh lain adalah prinsip kepemimpinan ala Amazon yang menetapkan bahwa para pemimpin harus mencari perspektif yang beragam dalam proses bekerja bersama dengan tim.

Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh seorang Jack Ma yang mempekerjakan John Wu dari Yahoo sebagai Chief Technology Officer (CTO)-nya. Jack Ma yang bisa dibilang buta teknologi dibandingkan dengan seorang John Wu memang sampai dibuat tidak bisa tidur oleh seorang John Wu. Namun ia meyakini bahwa apa dihadirkan oleh John Wu justru melengkapi kekosongan yang ada pada dirinya, alih-alih mengancam posisinya sebagai seorang pemimpin.

Alasan yang sama juga menjadi dasar seorang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, dalam memperkerjakan seorang Sheryl Sandberg. Juga, seorang pendiri ritel mode online Net-a-Porter, Natalie Massenet, yang merekrut Mark Sebba yang jauh lebih tua dari dirinya.

Kesimpulannya, penting bagi Anda sebagai pemimpin untuk mengelilingi diri Anda dengan sosok-sosok yang siap menyampaikan kepada Anda apa yang perlu Anda ketahui, ketimbang menyampaikan apa yang ingin Anda dengar. Dan yang tak kalah pentingnya adalah, pastikan diri Anda tidak ‘alergi’ terhadap sudut pandang dan pendapat yang berbeda, karena seringkali itulah yang menjadi dasar bagi Anda dalam mengahasilkan penilaian dan keputusan yang tepat.

 

Jadi, penilaian dan keputusan apa saja yang Anda hasilkan hari ini?

Salam bertumbuh, salam SuksesMulia!