Monday Knowledge: Buat Apa Rela Berkorban?

/, Leadership Insight/Monday Knowledge: Buat Apa Rela Berkorban?

Monday Knowledge: Buat Apa Rela Berkorban?

Kubik Leadership / Lead For Impact

“Kehidupan para pemimpin bisnis terkesan glamor dari luar. Namun kenyataannya, kepemimpinan mensyaratkan pengorbanan. Semakin tinggi levelnya, semakin besar pengorbanannya.” – John C. Maxwell.

Minggu lalu umat muslim baru saja memperingati hari raya Idul Adha. Waktu yang sangat tepat untuk merenungi kembali hikmah dari peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS. Ia mendapat penghormatan khusus yakni sebagai imam bagi manusia dan keturunannya dianugerahkan kenabian dan penerimaan kitab (wahyu). Penghormatan khusus ini tidak hadir begitu saja. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, hingga puncaknya ia bersedia menyerahkan anak lelaki yang sangat dicintai dan telah lama dinantikan.

Di bulan yang sama, kita juga memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Selaras dengan Idul Adha, kerelaan berkorban para pejuang berbuah tegaknya kedaulatan Negara. Meski mungkin tidak semua pejuang mendapatkan apresiasi yang nyata bagi mereka pribadi. Namun tidak soal bagi mereka, yang terpenting tujuan berjuang telah tercapai.

Agustus juga semakin menjadi bulan yang penting karena di bulan ini Indonesia menjadi tuan rumah event akbar Asian Games yang melibatkan 45 negara peserta. Gegap gempita rakyat Indonesia mendukung jagoannya bertanding di kancah bergengsi ini terutama mereka yang susah payah meski mengalami cedera parah tetap melanjutkan pertandingan. Seperti yang dialami atlet Anthony Ginting di cabang olahraga bulutangkis yang mengalami cedera kaki dan atlet Elga Kharisma Novanda di cabang olahraga sepeda. Meski mengalami cedera, tapi mereka terus berjuang. Mereka adalah pahlawan yang rela berkorban demi nusa dan bangsa.

Ternyata pengorbanan adalah sesuatu yang siapa saja bisa melakukannya. Apalagi seorang leader. Sejatinya pemimpin bukan hanya bisa memimpin, tetapi ia juga siap mengorbankan diri, kepentingan , waktunya untuk kebaikan tim dan organisasi. Meski mungkin di satu waktu dengan pengorbanan yang ia lakukan, tidak ada seorang pun yang menyadari atau mengapresiasi, namun ia akan tetap berbesar hati karena tujuannya bukan lagi respon orang tetapi pada hasil besar di masa mendatang.

  Kebencian itu Merusak

Sayangnya tidak semua orang yang memegang posisi sebagai Leader melakukannya. Banyak yang mengejar posisi kepemimpinan karena mereka yakin bahwa kebebasan, kekuasaan, dan kekayaan adalah hadiah yang sudah menanti saat mereka tiba di posisi itu. Tidak sedikit Leader yang menyalahgunakan perannya di dalam organisasi untuk keuntungan pribadinya. Pada akhirnya, keegoisan dan keserakahan ini berujung skandal yang tidak hanya merugikan dirinya, namun juga organisasi tempat ia bekerja.

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang Leader yang rela berkorban, artinya ia secara sukarela untuk sementara waktu atau secara permanen menyerahkan kepentingan pribadi, hak istimewa, dan bahkan kesejahteraannya, untuk kepentingan tim dan organisasi. Kita bisa menemukan contohnya di berbagai konteks. Nelson Mandela yang menghabiskan seperempat umurnya dibalik teralis besi karena memperjuangkan anti apartheid, Dan Prize (CEO Gravity Payment) yang memotong penghasilannya sendiri untuk memberikan gaji yang lebih layak untuk semua karyawannya, sampai dengan Aitzaz Hasan seorang pelajar kelas 3 SMP di Pakistan yang menggagalkan bom bunuh diri di sekolahnya meski harus terluka parah.

Banyak hal positif dari  Leader  yang rela berkorban. Dalam berbagai review riset yang dilakukan Scientific Research Publishing, jika Leader melakukan pengorbanan diri untuk organisasi dan kepentingan kelompok, ia akan memiliki pengaruh besar dan positif di tim. Rasa percaya antar anggota tim semakin kuat.

Journal of Applied Psychology Volume 90 No. 1 turut menguatkan dengan hasil riset bahwa pengorbanan seorang Leader mempengaruhi kualitas performa, level produktivitas, efektivitas kerja, serta loyalitas. Tim merasa bangga teridentifikasi sebagai bagian dari tim yang pemimpinnya rela berkorban untuk kepentingan luas, diluar dirinya sendiri.

Bila Leader hanya fokus pada mengejar target-target jangka pendek, dan terus-menerus saling mengadu anggota tim, motivasi sukses yang terbentuk hanya berdasarkan kecanduan menang target. Organisasi yang berhasil perlu meletakkan fondasi motivasinya pada perasaan bangga dan diakui publik, perasaan saling percaya dan hubungan yang kuat.

  Leadership Management Training Executive Education di PLN Udiklat Slipi (Batch 6 & 7)

Maka itu, selain bicara target, Leader perlu mengkomunikasikan tanggung jawab apa yang ada di balik target serta pengorbanan apa yang diianggap perlu. Berikan juga contoh mulai dari hal terkecil di keseharian. Sebagai contoh di militer, tentara dengan pangkat tertinggi makan paling terakhir meski beresiko tidak makan bila sudah habis.

Berikan juga rasa aman dengan menunjukkan usaha untuk menjalin hubungan yang dekat. Ini tidak bisa dilakukan dengan email, chat, atau memo. Leader perlu sering melakukan kontak personal, tatap muka atau setidaknya via telepon. Ini adalah contoh pengorbanan Leader modern masa kini. Menyediakan waktu dan energi untuk membangun dan mempertahankan hubungan.

Mulailah mempraktekkan secara konsisten, dan Anda akan temukan jawaban dari pertanyaan Buat Apa Rela Berkorban. Sebab sukses bersama rasanya lebih nikmat dan tahan lama daripada sukses sendirian.

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends
2018-09-03T13:31:08+00:00 August 27th, 2018|Tags: , , , |

Leave A Comment