Scr Image: open.spotify.com

Kubik Leadership / Lead For Impact

Masih ingat dengan Dilan 1990 kan? Sebuah film yang dikeluarkan pada 2018 lalu yang membiuskan penonton akan sosok laki laki SMA yang ganteng, keren, cool dan jagoan merayu, hingga Milea wanita cantik di SMA pun mau didekati. Laki laki yang kerap memberikan hadiah kecil namun bermakna untuk gadisnya, seperti TTS yang telah di isi dengan alasan “Supaya tidak perlu repot memikirkan jawaban” hingga berbagai puisi cinta yang puitis dalam buku.

Dilan juga digambarkan sebagai laki laki sejati dan sangat menjaga perasaan kekasihnya. Apa yang tidak disukai Milea tidak akan dikerjakan, apapun akan dilakukan agar kekasihnya bahagia dan hatinya berbunga bunga mulai dari memberikan perhatian kecil hingga hal heroik lainnya. Kehadiran Dilan ternyata dibicarakan banyak orang. Bisa jadi, karena figur Dilan sangat dirindukan dan diidam-idamkan.

Berbicara Dilan, mengingatkan kita pada figur seorang pemimpin yang dirindukan Indonesia, meski seperti apa figurnya masih jadi tanda tanya. Ada yang merindukan pemimpin kharismatik, yang kata katanya terbukti dilakukan dan memberi ketenangan. Ada juga yang menginginkan pemimpin yang adil, mengayomi, dapat merangkul semua golongan dan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Sementara banyak masyarakat yang benar benar menginginkan pemimpin yang amanah dan mewakili masyarakat Indonesia yang 83 % adalah penduduk muslim.

Jika Indonesia terlalu luas, mungkin kita bisa bercermin pada keseharian, apakah kita sudah menjadi pemimpin yang dirindukan. Bagaimana caranya mengetahuinya? Tidak perlu melalui survey, tapi cukup lebih membuka mata dan membuka hati, apa yang menjadi obrolan hangat di tim. Apakah mereka banyak membicarakan pekerjaan dengan mata berbinar binar, atau sebaliknya menganggap kerja sebagai beban. Selain itu lihat bagaimana reaksi tim saat diminta melakukan sesuatu hal, apakah menyambut antusias tantangan di depan mata atau malas mengerjakannya. Jika jawaban atas setiap pertanyaan lebih cenderung ke nomer dua, berarti Anda belum benar benar menjadi pemimpin. Lantas, bagaimana menjadi pemimpin yang dirindukan?

Sydney Finkelstein, professor di bidang management yang melakukan pendekatan kepemimpinan dan strategi berfokus pada kekuatan dan kelemahan bakat eksekutif, dalam salah satu tulisannya menyebutkan pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga guru yang hebat. Dari penelitiannya selama 10 tahun mempelajari para pemimpin kelas dunia, ternyata para pemimpin itu memberikan bimbingan langsung dan intensif pada timnya satu persatu, baik secara langsung atau secara virtual, dalam pekerjaan sehari-hari, meliputi keterampilan teknis, taktik umum, prinsip bisnis, dan pelajaran hidup. Pengajaran yang dilakukan bersifat informal dan organik, mengalir langsung dari tugas yang ada sehingga memiliki dampak langsung yang membawa organisasi menjadi salah satu perusahaan terbaik di bidangnya. Inilah yang sangat dirindukan tim. Seorang pemimpin yang terjun langsung dan memberikan arahan.

Mike Gamson, wakil presiden senior di LinkedIn menyampaikan pada Business Insider saat ia pertama kali melakukan pertemuan dengan CEO baru perusahaan, Jeff Weiner, mereka membahas hal hal yang bersifat fundamental mengenai prinsip kepemimpinan yang akan dijalankan. Gamson merasa pemimpin yang lebih simpati lebih dibutuhkan, sementara Weiner melihat pemimpin yang memiliki rasa welas asih lebih dibutuhkan dan dirindukan. Karena jika simpati, suatu waktu bisa terseret dalam suasana yang melibatkan emosi sementara welas asih lebih cenderung tetap tenang, berpikir jernih sehingga lebih mampu memberikan bantuan yang tepat dan dibutuhkan.

Pemimpin yang baik adalah yang sesuai dengan karakteristik tim, lingkungan atau rakyat yang dipimpinnya. Bisa jadi pemimpin yang baik dan dirindukan oleh negara Amerika tidak cocok untuk Indonesia. Begitu juga pemimpin terbaik perusahaan berteknologi tinggi kurang pas dengan pemimpin industri menengah. Bercermin pada diri Rasulullah SAW, pemimpin umat manusia yang sangat dirindukan dan telah meninggalkan kita berabad abad lamanya yang hingga kini masih menjadi contoh terbaik seorang pemimpin, ada beberapa hal yang dapat dipelajari dan menjadi sumber kekuatan beliau dalam memimpin yaitu:
1. Kekuatan inspirasi
2. Kekuatan motivasi
3. Kekuatan solusi
4. Kekuatan memprediksi kejadian di masa depan

Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership mengingatkan jangan terjebak menjadi pemimpin yang dirindukan semata, namun hasil kerja diri dan timnya jauh dari target yang ditetapkan. Banyak menghabiskan waktu bersama tim, suasana guyub, akur tidak ada konflik sama sekali, namun tidak berani mengingatkan jika ada yang salah. Blake – Mouton, dua tokoh Robert R Blake dan Jane Mouton yang melahirkan managerial grid model menyebut tipe pemimpin ini sebagai Country Club Management, kekeluargaan tapi hasil kerja tidak membanggakan. Sebaiknya jadilah pemimpin yang sangat dekat dan perhatian kepada timnya dan disaat yang bersamaan ia menjadi sumber energi bagi timnya untuk mencapai target yang disepakati. Tipe ini disebut sebagai team management, sementara Jamil menyebut sebagai tipe dengan gaya happy coach. Timnya terus berjuang mewujudkan target dengan perasaan yang happy.

Ternyata tidak sulit menjadi pemimpin yang dirindukan. Mulailah dari sekarang, happy timnya, happy leadernya. Siap?

Salam SuksesMulia!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends