Kubik Leadership / Lead for Impact

 

Tinggal menghitung hari kita akan segera memasuki tahun 2020. Tahun yang baru yang semoga
mendatangkan kesuksesan dan kemuliaan lebih tinggi untuk tim dan organisasi yang kita pimpin. Sebuah
harapan yang mampu mendorong begitu banyak pemimpin untuk kemudian menyusun rencana
tahunan dengan sebaik mungkin. Rencana yang didasarkan pada visi, misi dan target organisasi. Serta
tak lupa berkaca pada evaluasi atas pencapaian di tahun yang telah berjalan.

Bicara tentang rencana tahunan, hampir pasti hal tersebut dilekatkan dengan efektivitas dan
efisiensi. Serta pada beberapa tahun terakhir, tak ketinggalan lekat pula yang namanya inovasi. Ya,
ketiga hal tersebut nyatanya merupakan hal yang penting untuk bisa membuat sebuah rencana menjadi
sesuatu yang powerful mencapai tujuan. Meski pada kenyataannya, kerapkali kenyataan yang nantinya
terjadi justru memiliki dinamika yang berbeda dengan apa yang telah kita perhitungkan. Terlebih pada
era sekarang dimana ketidakpastian justru merupakan sebuah kepastian.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menjadikan rencana yang telah kita susun bisa betul-
betul menjadi sesuatu yang powerful dalam mencapai tujuan meski pada situasi yang nantinya dipenuhi
ketidakpastian?

Untuk bisa menjawabnya, Anda bisa memulai dengan menjawab tiga pertanyaan di bawah ini.
Seberapa Anda mampu memberikan jawaban yang tepat dan Anda sungguh-sungguh firm dengan itu,
hal tersebut bisa membantu menakar seberapa Anda bisa menjadikan rencana yang Anda sebagai alat
bantu yang powerful dalam mencapai tujuan.

1. Does it stem from something really desirable and meaningful?

Lihatlah kembali rencana yang telah tim dan organisasi Anda susun. Simak baik-baik.
Apakah rencana tersebut didasari dari suatu tujuan yang betul-betul Anda inginkan? Jika iya,
seberapa Anda menginginkannya? Dalam skala satu sampai sepuluh, dimana angka satu adalah
Anda tidak menginginkannya dan angka sepuluh adalah Anda setengah mati menginginkannya,
berapakah angka yang muncul di dalam benak Anda?

Kemudian tanyakan pula kepada diri Anda. Apa alasan yang membuat Anda
menginginkan tercapainya hal tersebut? Apa makna alasan tersebut bagi Anda?

Mengapa pertanyaan-pertanyaan tentang seberapa ingin dan apa alasan yang
mendasari tujuan menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas? Ya, karena semakin kita
menginginkan sesuatu, dan semakin hal tersebut berarti bagi kita, maka akan semakin besar
pula upaya yang siap kita berikan untuk betul-betul mencapainya. Bahkan ketika kita nantinya
akan berhadapan dengan situasi yang sulit sekalipun, kita akan lebih mampu untuk melakukan
hal-hal yang bahkan sebelumnya tidak masuk dalam rencana dan perhitungan sama sekali.
Sepanjang hal tersebut dibutuhkan untuk mencapai apa yang hendak kita tuju.

Seperti dikutip dari artikel yang ditulis oleh Carl Beuke Ph.D dalam laman Psychology
Today, “It can be hard, but it’s essential to reflect honestly on why you want to achieve a goal.
Your reasons for wanting to achieve the goal are what will keep you going when times get
tough.”

2. Who own the plan?

Jika anggota tim Anda ditanya, rencana tahunan tim dan organisasi yang telah tersusun
ini milik siapa? Apakah jawabannya adalah bahwa rencana ini milik Anda sebagai atasannya,
milik perusahaan, atau milik bersama (si anggota tim dan tim/perusahaan)? Kira-kira, apa
jawaban yang akan mereka berikan?

Penting bagi Anda untuk bisa mendapatkan jawaban yang betul-betul jujur dari mereka
yang Anda pimpin. Mengapa demikian? Hal ini karena jawaban tersebut dapat menjadi cermin
sejauhmana mereka siap bertanggungjawab atas apa pun yang akan mereka lakukan dan hasil
akhir yang nantinya terjadi.

Ketika anggota tim Anda melihat bahwa rencana ini bukanlah ‘miliknya’, maka hal ini
dapat membuatnya detach dari proses dan hasil yang muncul dari pelaksanaan rencana. Maka
wajar saja jika nanti Anda gagal melihat adanya personal responsibility dari anggota tim Anda.
Apalagi ketika yang terjadi adalah kegagalan.

Sebaliknya, ketika anggota tim melihat bahwa rencana yang telah disusun adalah juga
miliknya, maka mereka akan lebih terdorong untuk memberikan performa terbaiknya. Bukan
hanya itu, mereka bahkan telah menyiapkan diri jika ternyata yang terjadi adalah kegagalan dan
kemungkinan yang terburuk sekalipun. Seperti yang disampaikan oleh seorang business advisor
dan penulis, Stephen Shapiro; “We get so emotionally attached to a goal that we’re setting
ourselves up for failure and disappointment.”

3. What is your main focus?

“Goals can get you to work harder, focus more and perform better. But they also can
make you more likely to cheat, kill your creativity, and make you less likely to thrive.” (Amanda
Ruggeri, 2017, bbc.com)

Rencana adalah alat bantu dalam upaya mencapai tujuan. Dan ketika berbicara rencana,
beragam temuan menunjukkan bahwa ternyata yang namanya perencanaan ini dilakukan oleh
mereka yang sukses dan juga mereka yang gagal. Lantas apa yang membedakan?

Dari riset yang dilakukan oleh profesor psikologi Universitas Zurich, Alexandra Freund, ia
menemukan bahwa yang menjadi kunci keberhasilan sebuah rencana adalah ketika kita lebih
berfokus pada prosesnya, dan bukan pada hasil yang ingin kita capai. Bukan berarti hasil tidaklah
penting, hanya saja jangan sampai kita justru begitu terfokus pada hasil sehingga dampaknya
justru mengantarkan kita pada kegagalan.

Salah satu bentuk perilaku berfokus pada hasil adalah ketika kita melakukan aktivitas
visualisasi. Ketika kita melakukan visualisasi atau membayangkan akan hasil yang kita inginkan,
sesungguhnya hal ini bisa memberikan dampak yang ‘merusak’. Para peneliti menemukan
bahwa orang yang melakukan visualisasi pada akhirnya cenderung gagal mencapai apa yang
diinginkannya. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh faktor visualisasi yang ternyata bisa
memberikan efek menipu otak. Visualisasi yang kita lakukan ternyata berdampak pada
membuat otak kita berpikir bahwa kita telah berhasil (selesai) mencapai apa yang kita
visualisasikan tersebut. Akibatnya, diri kita gagal untuk menghasilkan energi dan upaya yang
dibutuhkan untuk bisa mencapai tujuan yang telah kita rencanakan.

Pun ketika nyatanya pikiran dan benak kita tetap memunculkan visualisasi, maka hal ini
bisa kita atasi dengan melakukan aktivitas yang bernama mental contrasting. Mental contrasting
adalah bentuk visualisasi yang juga disertai dengan membayangkan kenyataan negatif yang bisa
hadir sebagai hambatan atau kendala dalam mencapai hasil yang Anda inginkan. Dengan
membayangkan hambatan dan kendala tersebut, maka otak dan diri kita akan memunculkan
mekanisme diri berupa strategi yang secara sadar kita siapkan untuk menghadapi hambatan dan
kendala tersebut.

Nah, bagaimana dengan diri kita saat ini? Bila kita cermati lebih dalam ke dalam diri kita,
apa yang saat ini lebih menjadi fokus kita? Apakah hasilnya, ataukah prosesnya? Dan jika yang
menjadi fokus adalah hasil, apakah itu lebih kepada visualisasi positif berupa apa yang kita
inginkan? Ataukah berupa visualisasi yang disertai mental contrasting?

Nah, itulah tadi tiga pertanyaan kunci yang bisa membantu kita dalam menakar seberapa kita
bisa menjadikan rencana yang yang telah kita susun sebagai alat bantu yang powerful dalam mencapai
tujuan. Bagaimana? Sudahkah Anda mendapatkan jawabannya?

Selamat bereksplorasi, selamat bertumbuh, dan Salam SuksesMulia!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends