Kubik Leadership / Lead For Impact

Pernahkah Anda merasakan saat awal melihat sebuah tantangan Anda sangat bersemangat dan penuh energi menundukkan tantangan tersebut. Bahkan banyak ide ide liar yang muncul entah dari mana mengilhami Anda dan menjadikan hari hari Anda penuh dengan rencana besar yang ingin segera diwujudkan, dan gelisah karena adrenalin tinggi yang memicu Anda melakukan intervensi langsung baik di tim maupun dalam hubungan horizontal.

Namun tiba tiba, Anda merasakan kelelahan yang amat sangat dan semua energi menguap entah kemana. Pada suatu titik, Anda melihat apa yang sudah dilakukan selama ini sia sia dan tidak menuju pada perbaikan. Apalagi melihat sekitar Anda yang tetap tidak bergeming mengubah dirinya dan santai menghadapi perubahan. Anda pun merasa kecewa, marah dan bingung dengan kondisi yang ada. Ide mati tiba tiba, bahkan dalam taraf tertentu Anda merasa burnout. Sedikit saja hal terjadi diluar dugaan bisa membuat Anda marah tiada kepalang, respon yang dikeluarkan pun cenderung extrim. Inilah yang disebut “burnout”

Merete Wedell- Wedelborg, seorang executive coach dan psikolog organisasi dengan pengalaman panjang dalam membangun tim menyampaikan, banyak orang yang kini mengalami hal tersebut. Dinamika yang terjadi sangat fluktuatif, saat awal orang akan berusaha mengikuti dinamika meskipun dengan susah payah. Namun pada pertengahan karena energi yang dikeluarkan terlalu besar di awal dan tidak sebanding dengan perubahan ia pun kelelahan, atau kasus kedua, merasa terjebak dalam sebuah track yang tidak pernah berakhir.

Bagi para leader hal ini menimbulkan kontra produktif dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk proses recovery. Secara logika dan ideologi,mereka masih ingin terus menaklukkan tantangan yang ada. Namun kemampuan tidak berjalan lurus. Mereka tau, jika mereka patah di tengah jalan, organisasi bisa colaps, namun untuk keluar dari kondisi tersebut sudah tidak ada daya lagi, selain lelah,marah kecewa juga bingung harus melakukan apa.

Agar tidak berada dalam fase burnout, sebenarnya seorang pemimpin bisa mengubah fokus perhatiannya dari ego drive ke co – drive. Keluarlah dari ego diri. Lepaskan obsesi terhadap perkembangan diri, kebutuhan dan kinerja. Lepaskan diri sebagai pusat dari segala aktivitas,lihat dari pendekatan berbeda untuk terlibat dengan orang orang di sekitarnya. Memang tidak mudah melakukannya, apalagi di dalamnya terkandung rasa tanggung jawab yang tinggi, pengakuan diri dan gengsi.

Jika seorang pemimpin selalu mengontrol semua hal dan memberi contoh setiap saat, baterai pemimpin akan cepat kering dan beresiko saat peranan strategik dibutuhkan, tidak bisa berfungsi baik. Menyampaikan kondisi “urgent” itu berguna, tetapi jika setiap saat sinyal urgent dinyalakan, akan menyebabkan tim tidak lagi menganggap “ urgent” benar benar “ urgent”.

Selanjutnya, bantu orang-orang di sekitarnya untuk tampil. Lepaskan komando dan kontrol. Mulai bangun tim dan berdayakan mereka. Terlibatlah lebih banyak memberi energi pada tim dan berdayakan tim. Saat berkumpul, ajak tim menyampaikan ide ide brilian mereka. Tahanlah keinginan menyelesaikan semua masalah yang ada. Meski ia tau bagaimana jalan keluar terbaik. Bisa jadi dengan memposisikan diri dalam tim, seorang pemimpin dapat menilai hal hal apa yang seharusnya ia lakukan saat ia benar benar memimpin.

Pada saat bersamaan, carilah dorongan dalam diri untuk bangkit dan fokus pada hal hal yang bisa dilakukan. Jim Collins seorang konsultan di perusahan perusahaan besar dan sosial mengingatkan, seorang pemimpin besar tidak membuang waktu, untuk hal yang membuatnya patah. Pemimpin besar tidak pernah terlihat sampai ke hal teknis sehari hari, Ia akan terus membangun hal hal besar dan strategik.

Burnout tidak dapat dianggap remeh. Prevalensi “burnout” meningkat karena teknologi semakin mengaburkan batas antara pekerjaan dan hal pribadi. Penelitian baru dari American Psychological Association dan National Opinion Research Center di University of Chicago melaporkan sebagai berikut:

48% orang Amerika mengalami peningkatan stres selama 5 tahun terakhir
31% orang dewasa yang dipekerjakan memiliki kesulitan mengelola pekerjaan dan tanggung jawab mereka dalam keluarga
53% mengatakan pekerjaan membuat mereka “lelah dan kewalahan”.

Jajak pendapat Masyarakat untuk Manajemen Sumber Daya Manusia (SHRM) menemukan bahwa “kelelahan dari pekerjaan adalah salah satu alasan utama mengapa orang berhenti”. Bahkan ada kejadian yang mencengangkan, seorang karyawan hampir saja kehilangan matanya karena kelelahan di tempat kerja. Karyawan itu tidak henti bekerja selama berhari hari dan ia memukul wajahnya di meja. Tulang pipinya pun patah dan harus mendapatkan empat jahitan di matanya

Burnout sering diakibatkan oleh ketidakselarasan input dan output. Apa yang sudah dilakukan, tidak sebanding dengan apa yang diterima/didapat atau dihasilkan. Yang terlupakan oleh mereka yang burnout adalah kita tidak bisa memaksakan apa yang diinginkan dapat terwujud, karena dalam sebuah organisasi ada tim yang terlibat. Sebaiknya, jagalah diri sendiri sebelum masuk ke dalam fase ini. Salah satunya adalah dengan menjaga keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pisahkan keduanya. Bahkan jika memang benar benar tidak dapat dipisahkan, lakukan disconnect, memutus semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan, termasuk mematikan ponsel, menutup email dan akses Anda terhadap dunia kerja.

Salam SuksesMulia!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends