Kubik Leadership / Lead For Impact

“Gimana mau naik grade, kalau kerjaan kayak gini aja salah terus.”
“Lambat banget sih progress-nya. Customer bisa kabur ni lama-lama.”
“Kok jadinya beda ya sama yang saya bayangin. Model begini kurang modern.”
“Buat saya sih idenya ga menjual ya.”

Tidak ada orang yang merasa senang saat diberitahu ia melakukan sesuatu yang tidak benar atau tidak cukup baik. Kritik, sehalus apapun cara penyampaiannya, tetap saja akan membuat penerimanya tidak nyaman. Bedanya, ada yang segera move on dari ketidaknyamanan itu, ada pula yang berlama-lama tenggelam di dalamnya.

Bagi yang berlama-lama tenggelam dalam ketidaknyamanan, bisa bervariasi responnya. Ada yang menjadi pendendam. Ketimbang fokus pada kemajuan dirinya, dia justru lebih fokus mencari celah kesalahan si pemberi kritik. Tidak sabar rasanya balas mengkritik begitu kesempatan datang. Ada pula yang jadi tukang curhat. Waktu makan siang jadi ajang meluapkan cerita bagi siapa pun yang mau mendengar. Ceritapun bertambah-tambah sampai bentuk kumis si pengkritik saja dikomentari.

Tidak jarang pula yang jadi hobi menghindar. Menghindar berinteraksi kembali dengan sang pengkritik, menghindari tantangan baru, atau menghindar untuk berpendapat. Bila respon-respon semacam itu yang dipilih, penerima kritik justru mengalami kerugian yang berlipat-lipat. Ia menutup ruang untuk berkembang dan membuktikan diri bahwa ia bisa lebih baik lagi.

Jadi siapa yang sampai sekarang belum MOVE ON sejak dikritik? Mau tunggu sampai kapan? Sekarang waktunya Anda kembali bersinar. Masih ingat kata mutiara ‘what doesn’t kill you, makes you stronger’? Ya, kalau dihadapi dengan tepat, kritik dapat membuat kita lebih kuat dan lebih bersinar lagi dalam karier. Dalam area people development, semakin maju karier seseorang, semakin banyak kritik yang ia terima. Mengapa? Karena untuk maju, ia perlu keluar dari zona nyamannya dan mengambil tantangan-tantangan yang kelasnya lebih tinggi.

Grant Cardone dalam Huffington Post turut menguatkan bahwa kritik sangat penting untuk sukses. Hasil risetnya menyimpulkan bahwa mereka yang paling sukses di bidang atau bisnis apapun adalah orang-orang yang dirinya, proyeknya, idenya, produknya, menjadi sasaran target kritik. Bahkan bisa jadi sasaran ekspresi kebencian (haters). Kritik menunjukkan besarnya perhatian dari orang lain terhadap apa yang sedang mereka kerjakan dan selanjutnya mendorong diri mereka untuk menampilkan yang terbaik.

Jadi bagaimana persisnya menjadikan kritik sebagai pemicu sukses kita? Berikut ini langkah kuncinya. Pertama, mendengarkan untuk memahami. Banyak yang kalah di langkah pertama ini. Kebanyakan merasa sudah mendengarkan, tapi mereka mendengarkan untuk membalas (mungkin tidak langsung, tapi di dalam hati). Hentikan pikiran dan ego yang muncul saat Anda dikritik. ‘Dia kasar banget sih ngomongnya’, ‘lho saya melakukan sesuai perintah kok’, ‘dia ga ngerti sih situasi di lapangan’. Hentikan karena akan membuat Anda tidak murni mendengarkan untuk memahami sudut pandang dia.

Kedua, berikan respon yang sesuai. Bila setelah Anda simak baik-baik kritik itu benar meski pedas rasanya, berlapang dadalah dengan mengakuinya dan ucapkan terima kasih. Bila Anda berbuat salah, segeralah minta maaf. Meskipun kejadian itu bukan sepenuhnya salah Anda, tetaplah minta maaf pada bagian yang menjadi tanggung jawab Anda. Bila Anda merasa kritik yang diberikan tidak jelas, lakukan klarifikasi. Bila kritik itu bagi Anda tidak tepat, Anda bisa menyampaikan sudut pandang Anda tanpa perlu menyalahkannya. Terakhir, bila Anda masih terkejut atau terbawa emosi lainnya saat kritik diberikan, oke oke saja untuk memilih diam dulu. Sampaikan ‘terima kasih untuk perhatiannya, saya minta waktu untuk meresponnya nanti.’

Memang ada saja tukang kritik yang tujuannya menyerang secara personal. Membuat kita merasa tidak diperlakukan dengan respek. Bila ini terjadi pada Anda, ingatlah untuk tidak mengambil hati saat dikritik. Tempatkan kritik di luar diri kita. Kritik ini tentang pekerjaan, ide, proyek, apapun itu, bukan tentang siapa diri saya. Maka langkah ketiga ialah ambil pembelajaran. Bagaimanapun cara penyampaiannya, cari poin utama yang bisa diambil dari kontennya.

Langkah terakhir adalah tindak lanjuti. Kritik akan membuat kita maju ketika setelahnya kita menindaklanjuti dengan konkrit. Tunjukkan bagaimana Anda membalikkan keadaan dengan mencapai kualitas hasil kerja yang lebih memuaskan. Bahkan kritik kosong yang diberikan haters Anda bisa Anda tindak lanjuti dengan menunjukkan Anda yang lebih berjiwa besar, semakin berdaya juang, dan tetap menularkan energi positif di sekitar Anda. Kritik kosong bermetamorfosa menjadi semakin matangnya self leadership di dalam diri Anda. Siap?

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends