Monday Knowledge: Pentingnya Emosi Dalam Membangun Budaya Perusahaan

Home/Articles/Monday Knowledge: Pentingnya Emosi Dalam Membangun Budaya Perusahaan

Monday Knowledge: Pentingnya Emosi Dalam Membangun Budaya Perusahaan

 

Kubik Leadership / Lead For Impact

Minggu lalu, sebuah video viral yang memperlihatkan seorang pemuda mengamuk dengan merusak motor pacarnya saat terkena razia motor yang dilakukan polisi. Pada 2016 lalu juga terjadi seorang laki-laki berusaha menabrak polisi yang merazianya di jalan raya. Sebuah reaksi spontan yang anarkis disebabkan keduanya tidak bisa mengontrol amarah. Baik pemuda maupun laki laki yang telah menabrak polisi akhirnya ditahan,setelah ditelusuri tidak membawa kelengkapan kendaraan dan terkena sanksi perbuatan tidak sopan pada aparat negara.

“Amarah tidak pernah datang tanpa alasan, tapi jarang sekali berujud alasan yang baik.” (Benjamin Franklin). Amarah adalah salah satu jenis emosi manusia, di samping puluhan jenis emosi lainnya seperti rasa menyesal, sedih, benci, gembira, semangat, kecewa dan sebagainya.

Amarah, yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai anger, sangat dekat dengan kata (bahasa Inggris) danger (berbahaya). “Menyimpan kemarahan ibarat menggenggam bara panas dengan niat melemparkannya ke orang lain, dan itu ternyata akan membuat Anda sendiri terbakar,” ujar Buddha.

Menurut para psikolog, secara universal, ada tiga jenis amarah yaitu pertama, amarah yang terjadi saat seseorang terperangkap dalam suatu kondisi. Misal saat terjadi kemacetan tiba tiba ada kendaraan yang menyerobot. Kedua, adalah model amarah sebagai reaksi karena diperlakukan tidak adil. Seorang kakak adik bisa bertengkar dan si adik menyudahi nyawa kakaknya karena selama ini si kakak mengambil hak waris orangtua mereka juga menjual harta benda peninggalan orang tua. Terakhir, adalah amarah yang memang menetap pada orang yang bersangkutan, atau tepatnya, yang bersangkutan adalah seorang ‘pemarah’.

Hati hati Anda menjadi seorang pemarah. Karena kebanyakan kasus marah tidak menghasilkan sesuatu yang positif, malah memperburuk keadaan. Apalagi jika seorang pemimpin memiliki sifat pemarah, ia tidak hanya menghancurkan dirinya, tapi juga tim bahkan organisasi yang dipimpin.

  Monday Knowledge: Jangan Berlindung Dibalik Kata Memberdayakan

Donald Trump adalah pemimpin pemarah dan tanpa visi. Ia gagal mengenali bahwa amarah politik tidak bisa disamakan dengan program politik. Berkali kali komentarnya yang pedas dan serabutan membuat dirinya tidak terlihat sebagai pemimpin hebat yang memimpin sebuah negara adikuasa. Bukan hanya lawan politik saja, tapi rakyat Amerika, para pemimpin dunia dan sebagian besar penduduk dunia menjulukinya sebagai si “ tukang pemarah”.

Selain Donald, tercatat pemimpin korea, Kim Jong Un yang juga bertemperamental. Saat Donald meremehkannya ketika program uji coba rudal korea dengan menyebut Kim sebagai “manusia roket”yang memiliki mimpi terlalu tinggi, Kim membalas dengan mengeluarkan pernyataan tertulis dan menyebut Donald Trump sebagai “anjing”. Tentu saja hal ini akhirnya memperburuk hubungan bilateral kedua negara. Kemudian ada juga presiden Filipina, Rodrigo Duterte, yang juga mencemooh Kim dengan programnya dan menyebut Kim Jong Un sebagai seorang yang pandir dan gila.

Di Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang penuh sopan santun, beretika pun muncul pemimpin yang tidak mencerminkan budaya nusantara. Sebagai contoh kasus adalah mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang lebih sering dilabel sebagai pemimpin pemarah yang negatif, yang barus saja keluar dari hotel prodeo untuk mempertanggungjawabkan ucapannya yang di anggap menghina umat Islam.

Sebenarnya amarah adalah salah satu kecerdasan emositional ( emotional quotient) yang jika bisa dikendalikan dapat menghasilkan hal positif. Emosi merupakan hal yang penting dalam kepemimpinan. Salah satu alasannya yaitu pemimpin dapat memanfaatkan dan mengarahkan kekuatan emosi untuk memperbaiki kepuasan diri tim, moral, dan motivasi akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan meningkatkan keseluruhan efektivitas organisasi, jika pemimpinnya dapat mengelola emosi positif. Namun jika emosi negatif yang muncul, yang menurut penelitian lebih mudah menyebar di banding positif, maka bersiap siaplah mengeluarkan extra perhatian agar emosi negatif dapat segera di alokalisir dan diselesaikan secepatnya.

  Mudah Berjanji Tapi Tidak Ditepati

Pentingnya mengetahui emosi seseorang menjadi perhatian di sebuah perusahaan Fintech kewirausahaan yang berdiri pada 1999 dan berkembang sangat cepat, Ubiquity Retirement + Savings. Sebelum pulang, setiap karyawan wajib menekan tombol emosi yang menggambarkan kondisi emosi mereka pada hari tersebut. Ada lima tombol untuk dipilih: wajah tersenyum jika mereka merasa bahagia di tempat kerja hari itu, wajah berkerut jika merasa sedih, dan sebagainya.

Mungkin terlihat aneh dan semacam tipu daya SDM saja, karena ada instrumen kepuasan yang dipaksakan dengan kategori Tim yang wajah yang paling banyak tersenyum adalah pemenangnya. Namun sebenarnya manajemen Ubiquity menggunakan data tersebut untuk mempelajari apa yang membuat seseorang merasa senang di tempat kerjanya dan mereka terus melakukan improvment agar tingkat kebahagian karyawan semakin tinggi.

Organisasi lain juga mulai melakukan hal yang sama. Beberapa menggunakan aplikasi yang merekam seberapa menyenangkan orang-orang berinteraksi di tempat kerja. Beberapa bahkan menyewa konsultan teknologi yang memiliki spesialisasi melacak suasana hati per harian, mingguan dan bulanan. Sayangnya, organisasi-organisasi ini termasuk minoritas. Sebagian besar perusahaan tidak terlalu memperhatikan bagaimana perasaan atau apa yang seharusnya dirasakan karyawan. Mereka tidak menyadari bagaimana emosi yang ada sangat berperan dalam membangun budaya perusahaan.

Kekeliruan selama ini adalah ketika berbicara tentang budaya perusahaan, biasanya yang difokuskan pada nilai kognitif seperti nilai-nilai intelektual, norma, artefak, dan asumsi bersama yang berfungsi sebagai panduan bagi kelompok untuk berkembang. Budaya kognitif menetapkan nada untuk bagaimana karyawan berpikir dan memiliki di tempat kerja – misalnya, bagaimana pelanggan berfokus, inovatif, berorientasi pada tim, atau kompetitif mereka seharusnya.

Budaya kognitif tidak dapat disangkal penting bagi keberhasilan organisasi. Tapi jangan dilupakan bagian penting lainnya yang disebut budaya emosional kelompok: nilai-nilai afektif bersama, norma, dan asumsi yang mengatur emosi yang dimiliki dan diekspresikan kelompok di tempat kerja. Jika emosional kelompok tidak dikelola,
Budaya perusahaan hanya menjadi jargon atau hanya di pandang penting bagi segelintir orang saja.

  Monday Knowledge: Jangan Terjebak Dengan “Burnout”

Salam SuksesMulia!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends

Leave A Comment

1
×
Salam SuksesMulia,

Terima kasih telah mengunjungi Kubik Leadership - HR partners specializing in Leadership and Personal Development.

Ada yang bisa kami bantu untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis Anda?

klik icon whatsapp dibawah ini.