Kubik Leadership / Lead For Impact

Anton, bukan nama sebenarnya, seorang leader di perusahaan  perbankan swasta terkemuka yang selama ini prestasinya selalu menonjol. Sejak awal, saat bergabung  ia adalah salah satu Management Trainee ( MT) yang dalam waktu singkat langsung menduduki jabatan Assisten Manager. Berbagai challange ia hadapi dengan sangat baik. Otaknya yang cerdas dengan latar belakang pendidikan S2 lulusan luar negeri memudahkannya dalam melakukan analisa dan menterjemahkan di pekerjaan sehari hari.  Semua orang menyukainya, tidak hanya pimpinan, team pun merasa senang dengan leader yang cerdas dan selalu dapat menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi. Tidak heran, dalam kurun waktu  5 tahun Anton sudah menduduki posisi yang sangat strategis dan diimpikan teman teman selevelnya. Kehidupan terlihat sangat berpihak pada Anton. Punya karir cemerlang,posisi yang tinggi dan pendapatan yang sangat besar. Hingga pada suatu ketika, perusahaan tempat ia bekerja mengalami krisis, dan untuk mengatasi hal tersebut, management memutuskan mengubah proses bisnis secara significant.

Sebagai seorang Department Head, Anton diminta untuk segera menyesuaikan struktur organisasi di bawah bawah kepemimpinannya dan segera melakukan penyesuaian, salah satunya dengan membuat perampingan. Selain itu, mengingat kinerjanya yang sangat baik selama ini, Anton pun diminta membuat bisnis baru yang diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan baru. Berbekal referensi keilmuan dan pengalaman yang dimiliki, dengan semangat Anton menerima challange tersebut. Ia pun kemudian mengajukan Platform  Business Strategic Plan baru kepada pimpinannya. Namun sayang, platform itu di tolak. Pimpinannya menilai apa yang dirancang oleh Anton terlalu bombastis. Bagus dalam tataran ide, namun sulit dan butuh waktu lama untuk diwujudkan. Ditambah  tidak ekologis.  Sistim dan kondisi lingkungan tidak menunjang dan tidak sejalan dengan ide liar tersebut.

Pimpinannya kemudian mengajak Anton untuk berpikir lebih realitis dan membahas kemungkinan lain. Namun, perasaan terluka karena penolakan atas ide briliannya dan kemarahan yang sangat besar telah menjadikan Anton patah. Ia bahkan tidak mampu mengelola perasaan dan berpikir jernih  mencari alternatif solusi lainnya  meski diberi stimuli baik oleh pimpinan maupun rekan selevelnya. Anton marah dan mengeluarkan kata kata yang tidak sopan pada pimpinannya yang bernada merendahkan dan meremehkan. Bahkan ia juga mengeluarkan pandangan negatif terhadap organisasi yang selama ini memberinya kesempatan belajar dan berkarir cemerlang. Pada meeting selanjutnya, Anton tiba tiba pingsan dan harus di rawat. Dari diagnosa dokter ia mengalami pendarahan di otak yang cukup membahayakan kehidupannya.

Pelajaran  penting dapat diambil dari kasus Anton ini. Melihat latar belakang Anton yang sejak kecil selalu menjadi siswa terbaik dan mahasiswa dengan lulusan terbaik menjadikan kepercayaan dirinya sangat tinggi. Semua yang direncanakannya selalu berhasil dan berjalan baik. Orang-orang di sekeliling Anton tidak pernah ada yang meragukan idenya dan selalu setuju dengan apa yang disampaikan dan inilah yang akhirnya membuat syaraf otak di kepala Anton cenderung tidak fleksibel.

Saat seseorang merasa dan menganggap keputusannya yang berasal dari proses berpikir  adalah satu satunya jalan keluar terbaik dari permasalahan yang ada, maka pada saat itu tertutup alternatif solusi lainnya. Kondisi ini tidak baik, karena tidak adaptif. Seharusnya seorang  leader memiliki beberapa alternatif sehingga jika plan A tidak dapat dijalankan, masih ada plan B, C dan plan lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Apalagi di situasi dan kondisi bisnis saat ini, perubahan tidak dapat di prediksi di awal. Segala kemungkinan dapat terjadi, baik yang mengarah kebaikan ataupun sebaliknya. Jika pemimpin hanya punya satu cara saja, besar kemungkinan tujuan tidak tercapai.

Pada otak sebenarnya ada yang disebut Gyrus Cingulatus atau cingulate cortex,  bagian otak yang terletak di bagian dalam- tengah Lobus Frontalis yang memiliki fungsi seperti” tuas presnelling” makanya sering dikenal dengan “otak kopling”. Gyrus Cingulatus membuat seseorang dapat memindahkan perhatian dari satu pikiran ke pikiran lain dan dari satu perilaku ke perilaku lain. Fungsinya antara lain dapat mengalihkan perhatian, melenturkan kognisi, beradaptasi, kemampuan melihat pilihan pilihan prioritas dan kemampuan bekerja sama. Jika suatu saat Anda menghadapi kondisi stuck, tidak bisa berbuat apa apa, dan tidak ada energi untuk me respons kondisi yang ada. Bisa jadi pada saat itu cingulatus Anda, atau yang biasa disebut “otak kopling” tidak bekerja dengan baik. Diibaratkan kopling yang seharusnya dapat mengatur daya dan menjadi pendorong untuk mengubah respon perilaku sesuai dengan yang diinginkan, namun kopling Anda saat ini tidak bekerja. Meski Anda punya perasaan, punya keinginan namun Anda tidak mampu menterjemahkan perasaan dan keinginan tersebut dalam wujud aksi yang harus diambil. And tidak mampu memutuskan langkah apa yang harus di ambil.

Sebagai seorang leader, seharusnya memiliki Flexibility New Challenges (FNC) adalah kemampuan seseorang dalam menata pikiran/perasaan aman, nyaman (tidak kaku) dan tahan ketika menerima sebuah rangsangan (stimulus). Ada beberapa hal yang harus dilakukan, salah satunya adalah mengenali panas limbik, yaitu hal hal yang selama ini menjadi penghambat diri dalam menjalankan fungsi dengan baik. Setelah kita mengetahui faktor tersebut, berikutnya panas limbik harus dipadamkan agar tidak merusak. Seperti apa caranya ? Anda dapat mengetahui dan berlatih memadamkannya pada Neuroleadership Training – Embrace Your Brain to Become Agile LEADER.

Apalagi yang Anda tunggu? Daftar sekarang juga KLIK http:http://bit.ly/NEUROLEADERSHIP

Informasi 021 29 400 100 / 082 111 999 022 (Murni)

 

 

 

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends