Kubik Leadership / Lead For Impact

Ari, seorang manager dari sebuah perusahaan ternama mengadu kepada saya bulan Maret tahun 2018 “Pak Jamil, jabatan saya naik, tapi stress saya juga naik. Target jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya padahal iklim bisnis tidak mendukung. Tanggungjawab semakin luas, yang saya pimpin ada yang masih unyu-unyu (muda dan polos) tapi ada juga yang jauh lebih tua dibandingkan saya. Selain itu, waktu untuk keluarga saya semakin berkurang.”

Saya pun mengajukan pertanyaan “dari mana mas Ari tahu kalau itu membuat stress? Apa tanda-tandanya?” Dengan cepat lelaki jebolan ITB itu menjawab “saya sudah googling tanda-tanda orang stress, pak. Diantaranya: mual, sering diare, susah makan, tekanan darah tinggi, dan semua tanda itu ada pada saya. Dan yang membuat saya semakin lelah pak, saya susah tidur. Kalau sudah bisa tidur, e..e.. saya mimpi buruk.”

Tentu, Anda tidak mau seperti Ari bukan? Stres tidak bisa dibuang, itu manusiawi, namun stress tidak boleh dibiarkan apalagi dalam jangka waktu yang lama sebab bisa berdampak merugikan dan merusak. Dampak buruk stress juga telah diriset oleh Dr. Justin B. Echouffo-Tcheugui bersama tim dari Harvard Medical School, Boston – USA. Dari riset ini, stres ternyata bisa membuat otak menyusut, menjadikan kita pelupa. Bukan hanya merusak diri sendiri namun bisa merusak orang lain, bisnis dan juga kehidupan seseorang.

Kabar baiknya, stres bisa dikelola bahkan menjadikan seseorang semakin hebat dan produktif. Banyak tips atau cara yang bisa dilakukan untuk mengelola stress yang tersebar luas di dunia online. Sayangnya, kebayakan tipsnya itu mengobati gejalanya bukan sumber masalahnya. Padahal, apabila kita obati gejalanya bukan sumber masalahnya, suatu saat penyakit itu akan datang kembali kepada kita. Stes lagi, stress lagi, padahal tantangan yang dihadapi sama.

Ternyata ada obat yang bisa mengobati sumber masalah stres dengan pendekatan ilmu Neuroleadership. Bukan hanya terobati, tetapi juga bisa membuat seseorang yang stres semakin produktif. Tools dengan pendekatan Neuroleadership yang sudah kami siapkan namanya SLP: Smart Limbic Prevention.

Ada tiga langkah dalam SLP, langkah pertama adalah “Berdamai” dengan Emosi yang menimbulkan stress, dalam ilmu neuroleadership disebut labeling. Dalam bahasa psikologi biasa disebut accept, orang jawa bilang “nrimo” dalam bahasa spiritual hening, tafakur. Kita tidak mungkin membuang emosi yang ada dalam diri kita karena itu fitrah manusia, namun kita bisa “berdamai” dengan emosi tersebut.

Apakah hanya “berdamai” dengan emosi bisa membuat kita semakin produktif? Jawabnya tidak, itu belum cukup. Berdamai hanya membuat kita lebih tenang, lebih rasional, lebih adem. Ada dua langkah lagi yang perlu kita lakukan agar kita semakin Produktif. Apabila Anda ingin punya pengalaman dan merasakannya secara langsung, silakan ikut Neuroleadership Training yang dilakukan oleh Kubik Leadership. Segera klik http://bit.ly/NEUROLEADERSHIP atau hubungi 021 29 400 100 dan 082-111-999-022.

Di awal tahun 2019, saya berjumpa kembali dengan Ari. Lelaki beranak tiga ini, kini bukan hanya saja menikmati pekerjaannya, ia diberi tantangan yang jauh lebih besar oleh perusahaanya. Stres di awal tahun telah berbuah menjadi pekerjaan yang lebih nikmat, karir yang lebih cerah, senang menghadapi tantangan dan keluarga yang semakin bahagia. Ia semakin produktif

Ingin seperti Ari?
Mari bertemu pada tanggal 11-12 April di Jakarta

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends