Kubik Leadership / Lead For Impact

Di awal tahun 2000, bisnis saya bangkrut, saya menjual aset-aset saya dan masih menyisakan hutang yang lumayan besar. Dalam suasana seperti itu sahabat saya menasehati “Jamil pergi umroh saja, berdoa di tanah suci, minta tolong sama Sang Pemilik Rezeki.” Mendengar nasehat seperti itu, kontan saja saya marah “kamu kalau nasehatin yang bener dong, uang gak ada, hutang banyak, koq malah umroh, mikir.”

Teman saya menimpali “jawabanmu itu membuat kamu gak punya uang, hutang tetap banyak dan gak bakal bisa pergi umroh. Umroh itu bukan tentang mampu atau tidak mampu tetapi Allah swt akan memampukan orang-orang yang terpanggil. Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan terjadi dalam dunia nyata.”

Ucapan itu menancap kuat dalam pikiran saya, beberapa hari setelah dialog itu, saya pun membayangkan saya pergi umroh, dalam bayangan saya itu, saya berdoa di depan kabah agar Allah swt melimpahkan rezeki kepada saya, melunasi hutang-hutang saya dan menambahkan keberanian kepada saya untuk membuka usaha lagi.

Dan atas izin Allah, tahun 2004 saya diberangkatkan umroh oleh Dompet Dhuafa Republika, gratis. Saya pun bisa berdoa di depan kabah, sama persis dengan cara berdoa yang saya bayangkan. Sejak saat itu saya meyakini bahwa banyak kejadian yang terjadi di dunia nyata itu sudah terpikirkan dalam pikiran kita.

Keyakinan saya ini, sejalan dengan apa yang disampaikan Hans Wilhelm, penulis dunia yang telah menulis lebih dari 200 buku. Intisari pendapat lelaki kelahiran Jerman ini adalah, kejadian di dunia nyata itu sebelumnya terjadi di dalam pikiran, ia merangkumnya dalam The Law Of Projection.  Dalam bahasa agama “Allah swt itu sesuai dengan prasangka (pikiran) hamba-Nya”.

Pikiran kita ibarat laptop yang kemudian tersambung ke proyektor dan akhirnya muncul di layar.  Jadi cara kerja sederhananya Apa yang kita inginkan dan pikirkan (laptop) kemudian diulang-ulang dalam imajinasi bahkan ditambah dengan doa (proyektor), kemudian muncul di layar (kehidupan nyata). Apa yang muncul di layar adalah kehidupan nyata kita. Jadi berhati-hatilah terhadap apa yang sering kita ucapkan, kita pikirkan, kita inginkan dan kita bayangkan karena itu akan menjelma dalam kehidupan nyata.

Sejak kejadian itu, saya selalu membayangkang dan berdoa bisa pergi umroh setiap tahun dan alhamdulillah setiap tahun saya umroh. Saat pergi umroh sendiri saya pun berdoa di depan kabah agar bisa umroh bersama keluarga. Alhamdulillah, akhirnya setiap tahun saya pun bisa pergi umroh bersama keluarga. Untuk tahun 2019 ini, insya Allah saya dan keluarga berangkat tanggal 05 Mei 2019. Mau ikut bareng? Silakan hubungi 0822-188-188-01

Allah swt sudah memberikan otak kepada kita sejak lahir. Mengoptimalkan otak itu perwujudan rasa syukur kepada-Nya. Semakin bersyukur, nikmat hidup kita semakin ditambah, hidup kita semakin berkah, Anda ingin umroh kapanpun insya Allah akan dipermudah. Percayalah.

Khusus bagi Anda yang ingin mengoptimalkan peran otak untuk kepentingan karir atau bisnis dan kepemimpinan Anda, silakan bergabung di http://bit.ly/NEUROLEADERSHIP Segera.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends