fbpx

Kubik Leadership

Masih menempel dalam ingatan kita  kebangkrutan yang dialami perusahaan-perusahaan besar di dunia. Bahkan terjadi pada perusahaan mapan dan sudah berusia tua diantaranya adalah Envron, Lehman Brothers, Chrysler, General Motor, Kodak, Atari inc.

Kondisi ini dialami beberapa perusahaan di Indonesia. Berikut perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang mengalami kebangkrutan antara lain : Ford Motor Indonesia,  General Motors Indonesia (GMI) yang memproduksi mobil Chevrolet Spin di Bekasi menghentikan operasinya dan resmi ditutup pada Juni 2015 akibat selalu mengalami kerugian dan tidak mampu bersaing dengan produk lain sejenis. GM Indonesia mengalami kerugian USD4 juta setiap bulannya sejak mulai beroperasi pada 2013, sehingga total kerugian yang dialami GMI hingga 2015 mencapai USD200 juta. Beberapa perusahaan elektronik seperti Toshiba, Panasonic, Sharp dan Sony juga mengalami hal serupa. Batavia air pada industry penerbangan.

Secara umum penyebab dari mereka tidak meneruskan usahanya karena pemimpin tidak mampu menangkap kebutuhan konsumen, kurang peka pada gerakan kompetitor, berhenti melakukan inovasi, mengelola hutang yang amat besar dan pemimpin tidak mampu meningkatkan penjualan sedangkan biaya operasi yg tidak mencapai skala ekonomis sehingga menyebabkan kerugian.

Pada beberapa kegiatan bisnis saat ini pemimpin mulai dihadapkan dengan banyak tantangan misalnya, harga sewa kendaraan atau operational lease yg 5 tahun yang lalu masih mampu menjual jasa sewa perbulan dengan nilai RUU (harga sewa dibandingkan nilai asset unit) berkisar  3,5% sd 4%%. Saat ini hanya dikisaran 2,2%. Hal ini menandakan dengan investasi yg semakin tinggi tetapi harga jualnya makin rendah.

Sedangkan pada industri Logistic otomotif, untuk mendapatkan harga yg paling kompetitif. Para ATPM akhirnya mengelola langsung Logistic dan distribusinya. Akibatnya pengusaha lokal akan bersaing dengan perusahaan logistic sekelas McLogi, Seino, atau Toyota Tsusho.

Adapun usaha public taksi saat ini pun harus mempertahankan pasarnya dari serbuan pendatang baru seperti UBER, Grap Car atau GO JEK.

Contoh diatas menandakan adanya perubahan perubahan sangat cepat yg dihadapi oleh pemimpin, tidak terduga, kian tak pasti, dan semakin kompleks. Terminologi yang biasa kita pakai adalah VUCA yakni akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity

Volatility didefinisikan sebagai perubahan yang sangat cepat. Uncertainty adalah ketidakpastian yang mendatangkan kesulitan bagi kita dalam memprediksi kejadian atau peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Complexity adalah tentang perbenturan berbagai kekuatan, isu isu yang sulit dijelaskan berbaur dengan Chaos serta situasi yang sulit dipahami organisasi. Sementara Ambiguity adalah situasi yang tidak jelas, kabur, serta yang memungkinkan terjadinya salah pengertian dalam memahami sebab dan akibat dari suatu peristiwa.

Apa yang harus dilakukan oleh pemimpin dalam mensikapi kondisi tersebut diatas?

Yang pasti tidak cukup hanya mengandalkan skill managerial yaitu mengatur dan menjalankan kegiatan perencanaan (planning), pengorganisasian (organising), penempatan staff (staffing), memimpin (leading), dan kontrol (controlling).  Tetapi perlu keseimbangan dengan skill kepemimpinan.

Dalam Journal of Leadership Education 2014, Dr. Kari Keating dan Dr. David Rosch memaparkan seorang pemimpin harusnya mampu mengambil kesempatan dan memanfaatkan trend global economic dan Local Needs. Sekaligus membangun aliansi dengan bisnis yg lain bahkan dengan competitor.

Untuk itu perlu adanya kombinasi dari tiga kapasitas dari seorang pemimpin antara lain : kepercayaan diri (Ready), motivasi dalam memimpin (Willing) dan transformasi kepemimpinan (Able Leader)

Yaitu pemimpin yg memiliki keyakinan atas kemampuan dirinya, siap dalam melaksanakan tugas atau tindakan tertentu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.  Membawa timnya lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan. Pemimpin harus beberapa langkah di depan timnya, mampu merencanakan dan mengantisipasi sejumlah isu yang mungkin harus dihadapi di masa depan.

Dia juga menyiapkan sejumlah alternative rencana bisnis jika terjadi sejumlah tantangan, cepat membaca beberapa peluang yang dapat digunakan untuk mengembangkan perusahaannya.

pemimpin harus mulai pandai mengadaptasi gaya kepemimpinannya agar dapat menghadapi faktor yg krusial  khususnya pada timnya dalam memperkirakan perubahan perilaku atau keunikan pasar ataupun dalam menjalankan bisnis. Sementara itu, pemimpin mulai  menyiapkan kader lainnya dan tim yang kuat dibelakangnya dan siap dalam menghadapi situasi yg perubahannya selain cepat juga dramatical.

Kesimpulannya, pemimpin harus siap memimpin dalam situasi dan kondisi eksternal yang mengalami perubahan yang cepat dan dramatical. Tidak hanya beradaptasi dalam perubahan, tetapi terlibat dalam perubahan yang saat ini terjadi. Peka dan Mampu mengambil kesempatan berharga atas perubahan yang terjadi.

Jadi,  SIAPKAH ANDA?

Atok R Aryanto

People Development Coach



Leave a Reply

51 − 44 =

Open chat
1
Salam SuksesMulia,

Terima kasih telah mengunjungi Kubik Leadership - HR partners specializing in Leadership and Personal Development.

Ada yang bisa kami bantu untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis Anda?

klik icon whatsapp dibawah ini.