Stop Comparing!

//Stop Comparing!

Stop Comparing!

Kubik Leadership / Lead For Impact

Dalam perjalan hidup yang sudah saya lalui, saya pernah merasakan gelisah, merasa kalah, minder, tidak percaya diri, iri dan terkadang dengki. Semua perasaan tersebut bercampur menjadi satu, mereka muncul bergantian, tergantung situasi dan kondisinya, sangat menyiksa. Dan setelah melakukan perenungan mendalam, ternyata sumber berbagai penyakit hati tersebut muncul karena saya sering membandingkan hidup saya dengan orang lain.

Stop Comparing. Berhenti membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Setiap orang dilahirkan unik, punya ciri khas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pengalaman hidup setiap orang berbeda, temannya juga berbeda, yang dipikirkan berbeda, yang dirasakan berbeda, yang didengar berbeda, yang dilihat berbeda. Sungguh tidak layak membandingkan satu orang dengan yang lainnya. Antara orang yang satu dengan orang lainnya tidak apple to apple untuk dibandingkan.

Setelah saya berhenti membandingkan, ternyata perasaan-perasaan negatif pergi dengan sendirinya. Saya lebih menikmati hidup dan lebih fokus mengembangankan diri dan tidak terganggu dengan kemajuan dan pertumbuhan orang lain. Saya lebih sibuk membandingkan hidup saya sendiri dari waktu ke waktu. Saya ukur pertumbuhan atau perkembangannya.

Stop Comparing. Memang perlu energi melakukannya, tetapi nikmat prosesnya. Untuk berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain, saya menemukan beberapa formula.

Pertama, Self Acceptance.

Self Acceptance, menerima diri kita apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tugas kita fokus mengasah kelebihan dan menyadari adanya kelemahan. Apabila menggunakan perbandingan waktu, 80 persen waktu digunakan untuk mengasah kelebihan dan 20 persen waktu digunakan untuk mengurangi kelemahan.

Syukuri hidup dengan lebih banyak mengasah kelebihan atau kekuatan. Sabar atas kelemahan yang ada. Dan waspadalah, saat kita lebih fokus kepada kelemahan, kita bisa semakin tidak percaya diri, hidup terasa lelah, sering menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Self acceptance, selain bermakna menerima diri kita apa adanya juga bermakna cintai dirimu sendiri, “jatuh cintalah pada dirimu” begitu nasehat guru kehidupan saya

  Pelatihan Menjadi Trainer Berkualitas di PT. Summarecon Agung

Kedua, menguatkan keyakinan bahwa saya adalah produk spesial dari Allah swt.

Sidik jari, dna, bentuk wajah dan karunia lain yang Allah swt berikan kepada saya adalah khas untuk saya. Saya juga diberikan kelebihan dan kekuatan khusus oleh Allah swt. Tugas saya mencarinya dan mengasahnya. Allah Sang Pencipta, tidak pernah membuat produk gagal, semua diciptakan sempurna oleh-Nya.

Ketiga, mensyukuri berbagai nikmat.

Setiap hari pasti ada nikmat yang kita terima, dari yang kecil hingga yang besar. Dari yang sederhana hingha yang mewah, dari yang sedikit hingga yang banyak. Semua disyukuri, dan untuk menambah rasa syukur itu biasanya saya menuliskan berbagai nikmat yang saya dapat dalam buku yang sudah siapkan. Saya menyebutnya buku Jurnal Syukur. Usai menuliskannya, saya merasa makin bahagia, makin plong, makin bersyukur, makin menurun “comparing” hidup saya dengan orang lain.

Stop Comparing, dengan tiga formula tersebut di atas. Hidup semakin nikmat, bahagia, dan lebih produktif. Cobalah.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends
2018-07-31T13:36:17+00:00 July 31st, 2018|Tags: , , , |

Leave A Comment